Wednesday, November 25, 2009

TAKSONOMI BLOOM DAN SOLO UNTUK MENENTUKAN KUALITAS RESPON SISWA TERHADAP MASALAH MATEMATIKA

Oleh,
Drs. ASEP SAEPUL HAMDANI, M.Pd.
(Dosen Program Studi Pendidikan Matematika IAIN Sunan Ampel Surabaya)


ABSTRAK

Panduan untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat merupakan hal penting yang diperlukan para praktisi pendidikan. Untuk keperluan tersebut beberapa pakar mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam suatu model yang disebut taksonomi. Beberapa model taksonomi tujuan pendidikan diantaranya adalah, taksonomi Bloom, taksonomi Bloom Berdimensi Dua (Anderson, et al., 2001), dan Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes). Taksonomi Bloom merupakan
satu-satunya model taksonomi yang dipakai dalam sistem pendidikan di Indonesia. Taksonomi Bloom mengklasifikasikan tujuan pendidikan pada ranah kognitif menjadi enam kategori, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Taksonomi SOLO mengklasifikasikan kemampuan respon siswa terhadap masalah menjadi lima level berbeda dan bersifat hirarkis yaitu, prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract. Kedua model taksonomi tersebut dapat digabungkan menjadi satu model taksonomi baru berdimensi dua. Dimensi pertama adalah “masalah matematika” yang disusun berdasar pada tekasonomi Bloom, sedangkan dimensi kedua adalah “kualitas respon siswa terhadap masalah matematika”. Sehingga dapat ditentukan karakteristik respon siswa pada setiap level taksonomi SOLO terhadap masalah matematika yang disusun berdasarkan setiap level taksonomi Bloom. Penggabungan dua taksonomi tersebut bermanfaat untuk menentukan kualitas jawaban siswa terhadap soal matematika yang berbentuk uraian.

Kata Kunci: Taksonomi Bloom, Taksonomi SOLO, Kualitas Respon Terhadap Masalah Matematika.


LATAR BELAKANG
Panduan untuk merumuskan tujuan pembelajaran merupakan hal penting yang diperlukan para praktisi pendidikan. Untuk keperluan tersebut beberapa pakar mengklasifikasikan tujuan-tujuan pembelajaran dalam suatu model yang disebut taksonomi. Taksonomi berguna sebagai alat untuk menjamin ketelitian dalam komunikasi berkenaan dengan pengorganisasian dan interrelasi, dalam hal ini taksonomi tujuan pendidikan (Bloom et. al, 1979; Tjokrodihardjo, 2001). Beberapa model taksonomi tujuan pendidikan diantaranya adalah, Taksonomi Bloom, Taksonomi Bloom Berdimensi Dua (Anderson, et al., 2001), dan Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) (Biggs & Collis, 1982).
Bloom, Engelhart, Furst, Hill, dan Krathwohl mengklasifikasi tujuan pendidikan pada ranah kognitif menjadi enam kategori, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) (Bloom et. al., 1979; Arikunto, 2002; Winkel, 1996). Taksonomi ini sering disebut dengan taksonomi Bloom dan menjadi satu-satunya model taksonomi tujuan pembelajaran yang digunakan sebagai acuan mengembangkan tujuan kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Selain taksonomi Bloom, terdapat model taksonomi tujuan pembelajaran lain, seperti Taksonomi SOLO. Biggs dan Collis pada tahun 1982 mengembang-kan model taksonomi tujuan pembelajaran yang kemudian dikenal dengan taksonomi SOLO. Taksonomi SOLO mengelompokkan tingkat kemampuan siswa pada lima level berbeda dan bersifat hirarkis, yaitu level 0: prastruktural (pre-structural), level 1: unistruktural (uni-structural), level 2: multistruktural (multy-structural), level 3: relasional (relational), dan level 4: extended abstract (Biggs dan Collis, 1982). Selanjutnya taksonomi SOLO ini dikembangkan oleh Hartanto (2006) menjadi taksonomi SOLO Plus (TSP) yang levelnya menjadi 7 level yaitu, prastruktural, unistruktural, multistruktural, semirelasional, relasional, abstrak, dan extended abstract.
Berdasarkan uraian di atas, perbedaan model-model taksonomi tujuan pembelajaran tersebut dilandasi oleh cara pandang berbeda dalam melihat tujuan pendidikan. Biggs dan Collis (1982) mendesain taksonomi SOLO sebagai suatu alat evaluasi tentang kualitas respons siswa terhadap suatu tugas. Taksonomi yang digunakan untuk mengukur kemampaun siswa dalam merespon (baca: menjawab) suatu masalah dengan cara membandingkan jawaban benar optimal dengan jawaban yang diberikan siswa. Taksonomi SOLO digunakan untuk mengukur kualitas jawaban siswa terhadap suatu masalah berdasar pada kompleksitas pemahaman atau jawaban siswa terhadap masalah yang diberikan.
Taksonomi Bloom digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa berdasar pada proses kognitif siswa dalam memahami suatu masalah. Pencapaian hasil belajar siswa diukur berdasar pada kemampuan siswa menjawab masalah (instrumen evaluasi) yang sesuai proses kognitif yang akan diukur. Seorang siswa dipandang telah mencapai proses kognitif yang diinginkan apabila telah menjawab dengan benar masalah matematika yang sesuai dengan proses kognitif tersebut. Taksonomi Bloom sering digunakan guru untuk menentukan hasil belajar yang diinginkan, menentukan proses pembelajaran yang akan dilakukan, dan menentukan alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Anderson et. al., 2001).
Taksonomi Bloom berperan dalam menentukan tujuan pembelajaran, kemudian dari tujuan tersebut dapat disusun alat evaluasi (masalah) yang sesuai dengan tujuan tersebut. Sedangkan taksonomi SOLO berperan menentukan kualitas respon siswa terhadap masalah tersebut. Artinya taksonomi SOLO dapat digunakan sebagai alat menentukan kualitas jawaban siswa. Berdasarkan kualitas yang diperoleh dari hasil jawaban siswa, selanjutnya dapat ditentukan kualitas ketercapaian proses kognitif yang ingin diukur oleh alat evaluasi tersebut. Berdasarkan peran yang berbeda ini, kedua model taksonomi seharusnya digunakan bersama-sama sebagai alternatif sistem evaluasi yang saling melengkapi. Selanjutnya dapat dibuat sistem taksonomi baru dua dimensi. Dimensi pertama adalah ”masalah matematika” yang didesain berdasar taksonomi Bloom, sedangkan dimensi kedua adalah ”kualitas respon terhadap masalah” berdasar pada taksonomi SOLO.
Berdasarkan uraian di atas, makalah ini akan mendeskripsikan, bagaimana karakteristik kemampuan respon mahasiswa dipandang dari taksonomi SOLO terhadap masalah matematika disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang mengacu pada taksonomi Bloom? Matriks berikut dapat menggambarkan model taksonomi dua dimensi Bloom dan SOLO.
Tabel 1: Penggabungan Taksonomi Bloom dan Taksonomi SOLO
Prastruktural Unistruktural Multistruktural Relasional Extended Abstract
Pengetahuan C1-S0 C1-S1 C1-S2 C1-S3 C1-S4
Pemahaman C2-S0 C2-S1 C2-S2 C2-S3 C2-S4
Aplikasi C3-S0 C3-S1 C3-S2 C3-S3 C3-S4
Analisis C4-S0 C4-S1 C4-S2 C4-S3 C4-S4
Sintesis C5-S0 C5-S1 C5-S2 C5-S3 C5-S4
Evaluasi C6-S0 C6-S1 C6-S2 C6-S3 C6-S4
Keterangan,
Ci : Masalah matematika yang mengukur kemampuan kognitif level ke-i, i = 1, 2, ... ,6
Sj : Respon siswa pada level SOLO ke-j, j = 0, 1, ... ,4
Ci-Sj: Karakteristik respon siswa pada setiap level SOLO ke-j terhadap masalah matematika yang mengukur kemampuan kognitif ke-i.

Makalah ini merupakan pemikiran awal untuk mengembangkan sebuah teori baru model taksonomi dua dimensi yang menggabungkan taksonomi Bloom dan taksonomi SOLO. Dari pemikiran awal ini akan dirumuskan karakteristik yang bersifat hipotetik, selanjutnya akan diuji secara empirik dan pada akhirnya akan diperoleh karakteristik yang bersifat valid dan reliabel. Teori ini sedang dikembangkan oleh penulis dalam sebuah penelitian dalam rangka menyelesaikan studi di Program S-3 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya.

PEMBAHASAN
Taksonomi
Taksonomi adalah suatu klasifikasi khusus, yang berdasar data penelitian ilmiah mengenai hal-hal yang digolong-golongkan dalam sistematika tertentu (Winkel, 1996: 244; Anderson, et al., 2001). Salah satu klasifikasi khusus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah klasifikasi tujuan-tujuan pembelajaran. Tujuan (objective) pembelajaran menunjukkan apa yang harus dicapai mahasiswa sebagai hasil belajar, yang dituangkan dalam “rumusan eksplisit untuk mengubah performa mahasiswa melalui proses pendidikan”. Tujuan ini sangat penting dalam pembelajaran, sebab pembelajaran merupakan suatu tindakan yang disengaja dan beralasan (Widada, 2003). Tujuan-tujuan pembelajaran ini dapat diklasifikasikan dalam suatu taksonomi, seperti Taksonomi Bloom berdimensi dua (Anderson,et al., 2001), Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) (Biggs & Collis, 1982).
Menurut Anderson, et al. (2001) suatu pernyataan tentang tujuan pembelajaran memuat kata kerja dan kata benda. Kata kerja secara umum dideskripsikan sebagai suatu perubahan perilaku yang diharapkan dalam proses kognitif sebagai dampak dari suatu proses pembelajaran. Sedangkan kata benda secara umum dideskripsikan sebagai pengetahuan mahasiswa yang diharap dapat dikonstruknya. Untuk itu, Taksonomi Bloom yang direvisi adalah Taksonomi Bloom Berdimensi Dua. Dua dimensi tersebut adalah dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Dimensi proses kognitif memuat enam kategori yaitu, ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan menciptakan. Kontinuitas dimensi proses kognitif diasumsikan berdasarkan kompleksitas kognitif; yaitu, pemahaman lebih kompleks secara kognitif dari ingatan, dan seterusnya. Dimensi pengetahuan memuat empat kategori, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Kategori ini ditempatkan berdasarkan asumsi bahwa proses kognitif bermula dari konkret (faktual) ke abstrak (metakognitif).

Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom yang dimaksud dalam penelitian ini adalah katego-risasi atau klasifikasi tujuan pendidikan pada ranah kognitif. Kategorisasi ini disusun secara hierarkis, sehingga menjadi tingkatan yang semakin kompleks. Bloom mengklasifikasikan ranah kognitif menjadi enam kategori, pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (appli-cation), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).
Pengetahuan
Pengetahuan adalah kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, dan prinsip dasar (Wikipedia). Pengetahuan adalah kemampuan memberi bukti bahwa siswa tidak lupa, baik dengan mengingat kembali maupun dengan mengenali lagi beberapa gagasan atau fenomena, karena telah memiliki pengalaman dalam proses pendidikan. Pengetahuan didefinisikan sebagai kemampuan sedikit lebih dari sekedar menghafal gagasan atau fenomena dalam bentuk yang sangat menyamai aslinya. Pengetahuan tentang sesuatu dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, seperti pengetahuan tentang fakta, istilah, urutan, klasifikasi, kriteria, dan metodologi (Tjokrodihardjo, 2001; Bloom, 1979).
Pengetahuan meliputi ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal ini dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, dipanggil kembali pada saat dibutuhkan melalui bentuk mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Misalnya, dalam bentuk rumusan tujuan pembelajaran khusus adalah seperti berikut, siswa dapat menuliskan definisi lingkaran (Winkel, 1996).
Anderson (2001) menggunakan istilah “mengingat (remember)” sebagai konsep yang sepadan dengan “pengetahuan (knowledge)”. Mengingat adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang releven dari memori jangka panjang. Dua kata yang sepadan dengan kata “mengingat” adalah kata recognizing dan recalling. Recognizing adalah kemampuan menemukan informasi di memori jangka panjang yang relevan dengan informasi tersaji, sedangkan recalling adalah kemampuan untuk memanggil kembali informasi di memori jangka panjang dalam merespon masalah. Demikian juga, Winkel (1996: 245) menyatakan bahwa pengetahuan yang disimpan dalam ingatan digali pada saat dubutuhkan melalui bentuk mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
Dalam penelitian ini, yang dimaksud pengetahuan adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang sesuai dengan informasi tersaji, baik berupa fakta, konsep, prinsip, struktur, prosedur, klasifikasi, maupun kategori. Contoh dalam topik bahasan “dimenasi tiga” adalah kemampuan siswa menuliskan kembali definisi dua garis bersilangan dalam ruang.
Pemahaman
Pemahaman adalah kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, dan peraturan (Wikipedia). Sedangkan menurut Winkel (1996:246 ), pemahaman adalah kemampuan menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dapat dilihat dalam bentuk, kemampuan menguaraikan isi pokok dari suatu bahasan, kamampuan mengubah suatu data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain, seperti rumusan matematika dalam bentuk kata-kata.
Bloom (1979) menyatakan bahwa, seorang siswa dikatakan memiliki pemahaman, apabila dihadapkan pada sesuatu yang harus dikomunikasikan maka dia diperkirakan mengetahui apa yang harus dikomunikasikan dan dapat menggunakan ide yang termuat di dalamnya. Mengkomunikasikan ide tersebut dapat bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk simbol. Secara lebih singkat, pemahaman adalah kemampuan mengkomunikasikan ide dalam berbagai macam bentuk komunikasi. Contoh dalam matematika, siswa mampu mengkomunikasikan ”rumus” dalam bentuk verbal.
Anderson (2001) menggunakan istilah (mengerti) understand sebagai padanan kata pemahaman. Understand adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik. Kata kerja yang sering disepadankan dengan kata pemahaman adalah menginterpretasikan (interpreting), memberi contoh (exemplifying), mengkalsifikasi (classifying), menyimpul-kan (summarizing), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). Menginterpretasikan adalah kemampuan mengubah sajian informasi dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Memberi contoh adalah kemampuan memberikan contoh khusus dari suatu konsep atau prinsip. Klasifikasi adalah kemampuan untuk memilah contoh dan yang bukan contoh dari suatu konsep atau prinsip. Menyimpulkan adalah kemampuan untuk menyusun pernyataan tunggal yang mewakili suatu informasi. Membandingkan adalah kemampuan menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih objek. Menjelaskan adalah kemampuan merumuskan dan menggunakan model sebab akibat sebuah sistem. Siswa yang memiliki kemampuan menjelaskan dapat menggunakan hubungan sebab akibat antar bagian dalam suatu sistem.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan pemahaman adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik. Contoh dalam matematika, khusunya dalam topik bahasan “dimensi tiga” adalah kemampuan siswa menentukan sudut yang dibentuk oleh garis dan bidang dalam ruang. Dalam contoh ini siswa tidak hanya mampu menentukan sudut dan besar sudut, tetapi berdasarkan definisi sudut antara garis dan bidang mampu menjelaskan alasannya.
Penerapan
Penerapan adalah kemampuan menerapkan suatu konsep, prinsip, dan metode pada suatu masalah yang kongkrit dan baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penerapan suatu rumus pada masalah yang belum pernah dihadapi atau penerapan suatu metode kerja pada pemecahan masalah baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan memahami, karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk menerapkan pada suatu masalah. Misalnya, siswa dapat menghitung jumlah liter cat dan uang yang dibutuhkan untuk untuk mengecat dinding suatu ruangan, apabila kuantitas cat yang dibutuhkan untuk tiap m3 dan harga cat perliter disajikan (Winkel, 1996). Sedangkan Anderson (2001: 77) menyatakan bahwa penerapan adalah kemampuan menggunakan prosedur untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, penerapan selalu berkaitan dengan pengetahuan prosedural (procedural knowledge). Kategori penerapan sering disepadankan dengan kemampuan melakukan (executing) sesuatu pekerjaan routin, atau sering disepadankan dengan kemampuan menerapkan (implementing) gagasan, prosedur, metode, dan teori dalam kondisi kerja yang tidak routin. Apabila suatu masalah sudah dikenal oleh siswa, maka secara umum sudah diketahui prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, apabila masalah tersebut tidak routin, maka siswa harus mencari prosedur seperti apa yang tepat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Bloom (1979) menyatakan bahwa, penerapan mengikuti kaidah bahwa untuk menerapkan sesuatu membutuhkan pemahaman metode atau prinsip. Seorang guru sering mengatakan bahwa, apabila sesorang siswa betul-betul paham maka dia dapat menggunakan pemahamannya tersebut.
Penerapan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan menggunakan gagasan, prosedur, metode, dan teori dalam menyelesaikan suatu masalah baik yang routin maupun yang tidak routin. Contoh kategori penerapan dalam masalah matematika yang routin adalah kemampuan siswa menyelesaikan persamaan kuadrat x2 + 2x – 3 = 0 dengan cara melengkapkan kuadrat. Contoh kategori penerapan dalam masalah matematika yang tidak routin adalah kemampuan siswa menyelesaikan masalah luas persegipanjang dengan menggunakan konsep persamaan kuadrat.
Analisis
Analisis adalah kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagain-bagian pokok atau komponen dasar, bersama hubungan antara bagian-bagian itu. Kemampuan analisis setingkat lebih tinggi dibanding penerapan, karena kemampuan ini menangkap adanya kesamaan dan perbedaan antara sejumlah hal (Winkel, 1996).
Anderson (2001) menyatakan bahwa, analisis meliputi kemampuan untuk memecah suatu kesatuan menjadi bagain-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan satu dengan yang lain atau bagain tersebut dengan keseluruhannya. Kemampuan yang sering disepadankan dengan analisis adalah kemampuan membedakan (differentiating), dan mengorganisasi (organizing). Differentiating meliputi kemampuan membedakan bagian-bagian dari keseluruhan struktur dalam bentuk yang sesuai. Misalkan, ketika seorang siswa membedakan antara ”apel” dan ”jeruk” dalam konteks buah, apabila dilihat dari sisi ”biji”nya tepat dijadikan aspek pembeda, sedangkan apabila dilihat dari sisi ”warna” dan ”bentuk” nya tidak tepat sebagai aspek pembeda. Organizing meliputi kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur secara bersama-sama menjadi struktur yang saling terkait.
Analisis menekankan pada kemampuan merinci sesuatu unsur pokok menjadi bagian-bagian dan melihat hubungan antar bagian tersebut. Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan analisis adalah kemampuan memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan satu dengan yang lain atau bagain tersebut dengan keseluruhannya. Contoh dalam matematika adalah kemampuan menentukan unsur-unsur dan karakteristik kubus.
Sintesis
Sintesis merupakan kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga tercipta suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana seperti penyusunan satuan pelajaran yang dilakukan guru atau penyusunan proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema dasar sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan tersebut. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan analisis, karena dituntut kriteria untuk menemukan pola dan struktur organisasi. Misalnya, siswa dapat merumuskan suatu hipotesis penelitian berdasarkan teori dan kajian data tertentu (Winkel, 1996).
Sintesis satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesis akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
Evaluasi
Evaluasi didefinisikan sebagai kemampuan melakukan judgement berdasar pada kriteria dan standar tertentu. Kriteria sering digunakan dalam menentukan kualitas, efektifitas, efisiensi, dan konsistensi, sedangkan standar digunakan dalam menentukan kuantitas maupun kualitas.
Evaluasi mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu yang berdasar kriteria tertentu. Adanya kemampuan ini dinyatakan dengan memberikan penilaian terhadap sesuatu. Misalnya, memberikan penialian tepat tidaknya suatu rumusan tujuan pembelajaran khusus berdasarkan kriteria penyusunan rumusan tujuan pembelajaran khusus. Kemampuan ini merupakan tingkat tertinggi, karena mencakup semua kemampuan mulai dari pengtahuan sampai sintesis (Winkel, 1996). Evaluasi adalah kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, dan metodologi dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.




Taksonomi SOLO
Biggs & Collis (1982) mendesain taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) sebagai suatu alat evaluasi tentang kualitas respons mahasiswa terhadap suatu tugas. Taksonomi tersebut terdiri dari lima level, yaitu prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract.
Biggs & Collis (1982) mendeskripsikan setiap level tersebut sebagai berikut. Mahasiswa yang tidak menggunakan data yang terkait dalam menyelesaikan suatu tugas, atau tidak menggunakan data yang tidak terkait yang diberikan secara lengkap dikategorikan pada level prastruktural. Mahasiswa yang dapat menggunakan satu penggal informasi dalam merespons suatu tugas (membentuk suatu data tunggal) dikategorikan pada unistruktural,. Mahasiswa yang dapat menggunakan beberapa penggal informasi tetapi tidak dapat menghubungkannya secara bersama-sama dikategorikan pada level multistruktural. Mahasiswa yang dapat memadukan penggalan-penggalan informasi yang terpisah untuk menghasilkan penyelesaian dari suatu tugas dikategorikan pada level relasional. Mahasiswa yang dapat menghasilkan prinsip umum dari data terpadu yang dapat diterapkan untuk situasi baru (mempelajari konsep tingkat tinggi) dapat dikategorikan pada level extended abstract.
Tugas tidak dikerjakan oleh mahasiswa secara tepat, dia tidak memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tugasnya, mahasiswa itu adalah mahasiswa prastruktural. Untuk mahasiwa unistruktural dan multistruktural, dapat mengerjakan tugas dengan menggunakan satu atau lebih aspek yang terkait, namun belum diintegrasikan. Bila aspek-aspek tersebut diintegrasikan secara koheren, maka mahasiswa tersebut tergolong dalam relasional. Jika integrasi tersebut dikonseptualisasi pada level tinggi dengan cara abstraksi dan generalisasi untuk topik atau area baru, maka mahasiswa ini berada dalam level extended abstract.
Menurut Biggs (1999) respons mahasiswa pada level extended abstract dan relasional adalah fase kualitatif. Dalam hal ini, mahasiswa merespons suatu masalah dengan cara mengintegrasikan informasi-informasi yang diberikan dengan menggunakan pola (pattern) struktural. Sedangkan untuk level-level di bawahnya merupakan fase kuantitatif. Mahasiswa dalam hal ini melakukan respons terhadap tugas dengan menggunakan satu atau lebih atau bahkan tidak sama sekali dari informasi-informasi yang diberikan. Bila informasi-informasi tersebut digunakan, dia tidak melakukan penginteg-rasian.
Bila dibandingkan dengan Taksonomi Bloom, maka dapat dideskripsikan sebagai berikut. Indikasi level extended abstract adalah membuat teori, generalisasi, hipotesis, refleksi, dan membangun. Indikasi level relasional adalah membandingkan, menjelaskan (tentang mengapa), memadukan, menganalisis, menghubungkan, dan menerapkan. Indikasi level multistruktural adalah mengklasifikasikan, menghitung, mendes-kripsikan, mendaftar, mengombinasikan, dan mengerjakan suatu algoritma. Indikasi level unistruktural adalah mengidentifikasi, melakukan prosedur sederhana. Indikasi level prastruktural adalah tidak ada poin dalam taksonomi Bloom.
Hawkins & Hedberg (1986) melakukan penelitian tentang evaluasi LOGO (nama software komputer) dengan menggunakan taksonomi SOLO. Deskripsi umum tentang level SOLO untuk keterampilan belajar dengan LOGO adalah sebagai berikut. Mahasiswa yang tidak melakukan upaya untuk menyelesaikan masalah, dan jenis-jenis perintah yang “diberikan” mahasiswa tidak dipahami oleh komputer dikategorikan pada level prastruktural. Mahasiswa yang dapat menggunakan hanya satu model display, menggunakan hanya satu perintah, dan untuk membersihkan screen monitor dimatikan dan dimulai lagi dikategorikan pada level unistruktural. Mahasiswa yang dapat menggunakan model-model display dengan satu atau lebih perintah, menggunakan model teks dan berusaha membuat program, namun tidak dapat mengedit, bila salah program dihapus dan dimulai lagi dikategorikan pada level multistruktural. Mahasiswa yang dapat menulis program dalam model teks, dan jika terjadi kesalahan, maka dilakukan editing dikategorikan pada level relasional. Mahasiswa yang dapat menulis program dengan model teks, dan mengeditnya bila perlu, serta mampu memasukkan variabel dapat dikategorikan pada level extended abstract.
Dalam penelitian Olive (1991) tentang pemrograman LOGO dan pengertian geometri, diperoleh deskripsi sebagai berikut. Respons mahasiswa prastruktural tidak dapat menggunakan objek secara tepat. Mahasiswa unistruktural menggunakan satu objek. Mahasiswa multistruktural menggunakan objek-objek yang dikombinasikan dengan objek lainnya atau perintah pada suatu prosedur, tetapi objek tersebut tidak direlasikan secara tepat. Mahasiswa realtional dapat menghubungkan objek-objek secara bersama-sama dalam suatu urutan penyelesaian tugas. Operasi relasi terkait dengan tugas dan struktur objek. Objek LOGO digunakan untuk membangun blok. Mahasiswa extended abstract dapat merelasikan objek-objek secara bersama-sama untuk memciptakan objek baru yang lebih umum, lebih abstrak dari bagiannya; atau suatu prosedur digeneralisasi secara efektif untuk menciptakan objek khusus dalam struktur tersebut.
Level Prastruktural
Mahasiswa yang merespons suatu tugas dengan menggunakan pendekatan yang tidak konsisten dikategorikan pada level prastruktural (Collis & Biggs, 1986). Respons yang ditunjukkan berdasarkan rincian informasi yang tidak relevan. Konsepsi yang dia munculkan bersifat personal, subjektif dan tidak terorganisasi secara intrinsik. Mahasiswa tersebut tidak memahami tentang apa yang didemonstrasikan. Bila dikaitkan dengan bangunan suatu rumah, maka semua bahan berserakan dan tidak dapat memulai membangun rumah tersebut.
Nulty (2001) melakukan penelitian tentang respons mahasiswa dalam konteks seperti berikut, yaitu mendesain eksperimen (merencanakan suatu percobaan dalam mata kuliah Sain/Kimia) dan menguji hipotesis; menganalisis suatu argumen; menyelesaikan masalah; dan berpikir kreatif. Mahasiswa tidak dapat mendesain eksperimen dan tidak dapat menguji hipotesis, tidak dapat menganalisis suatu argumen, tidak dapat menyelesaikan masalah, dan tidak dapat berpikir secara kreatif mahasiswa tersebut dapat dikategorikan pada level prastruktural.
Biggs & Collis (1982) melakukan penelitian tentang bagaimana cara mengevaluasi kemampuan berpikir kritis. Dalam penelitian ini, masalah yang diajukan adalah seperti berikut, mengapa sisi gunung yang menghadap ke pantai lebih basah dibanding sisi gunung yang menghadap ke darat? Dua responden pada level prastruktural memberikan respon seperti berikut, responden pertama tidak memberikan jawaban apapun, sedangkan responden kedua memberikan jawaban tetapi tidak relevan dengan masalah.
Menurut Hawkins, et al (1986) bila mahasiswa diberikan masalah dan tidak ada upaya untuk memecahkan masalah tersebut. Jenis-jenis perintah yang digunakan untuk menjalankan suatu algoritma tidak bermakna. Hal ini berarti mahasiswa tersebut tidak memahami pertanyaan atau tugas yang harus dia selesaikan. Dia melakukan sesuatu yang tidak relevan, tidak melakukan identifikasi terhadap konsep-konsep yang terkait, dan sering menuliskan fakta-fakta yang tidak ada kaitannya. Mahasiswa yang berkarakteristik seperti di atas dapat dikategorikan pada level prastruktural
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, mahasiswa prastruktural tidak melakukan respons yang sesuai dengan sekumpulan pernyataan yang diberikan. Dia tidak memahami masalah yang diberikan. Dia mengabaikan pernyataan-pernyataan atau informasi-informasi yang diberikan, atau bila memberikan respon maka respon tersebut tidak relevan dengan informasi-informasi yang diberikan.
Level Unistruktural
Menurut Collis & Biggs (1986) bahwa mahasiswa yang melakukan respons berdasarkan satu fakta konkret yang digunakan secara konsisten, namun hanya dengan satu elemen dapat dikategorikan pada level unistruktural. Untuk suatu permasalahan yang kompleks, mahasiswa hanya memfokuskan pada satu konsep saja. Biggs (1999) menemukan respons mahasiswa pada level unistruktural dalam usaha menyusun struktur tertentu hanya membuat satu hubungan sederhana, sehingga hubungan yang dibuat tersebut tidak memiliki logika yang jelas. Hasil penelitian Hawkins & Hedberg (1986) menunjukkan bahwa mahasiswa yang hanya menggunakan satu model display, hanya menggunakan satu perintah tunggal, dan ia tidak dapat memberikan penalaran terhadap respon yang diberikan dapat dikategorikan pada level unistruktural.
Hasil penelitian Nulty (2001) menunjukkan bahwa mahasiswa pada level ini memberikan satu desain eksperimen, dengan satu hipotesis. Desain eksperimen ini bersifat konvergen dengan hanya ingin mengetahui satu jawaban. Desain eksperimen tersebut diasumsikan dapat menemukan jawaban hanya dengan satu tahapan (jika x maka y). Dia memberikan satu interpretasi tanpa kualifikasi atau mendasarkan pada sesuatu yang kontekstual. Terkait dengan problem solving, mahasiswa hanya memberikan satu solusi, dan dia menyatakan solusinya hanya itu (walaupun yang sebenarnya problem tersebut adalah divergen). Dalam hal berpikir kreatif, mahasiswa tersebut mendemonstrasikan suatu pola pikir yang uni-directional, yang memfokuskan pada satu aspek atau satu strategi atau satu solusi. Dia berpikir terbatas pada parameter, dan membuat hubungan antar item secara langsung.
Penelitian Biggs & Collis (1982) tentang bagaimana cara mengevaluasi kemampuan berpikir kritis terhadap masalah seperti berikut, mengapa sisi gunung yang menghadap ke pantai lebih basah dibanding sisi gunung yang menghadap ke darat? Responden yang memberikan jawaban seperti berikut, “karena hujan lebih banyak terjadi pada sisi gunung yang menghadap ke pantai” dapat dikategorikan pada level unistruktural.
Berdasarkan uraian di atas, mahasiswa pada level ini mencoba menjawab pertanyaan secara terbatas, dengan cara memilih satu penggal informasi yang ada.
Level Multistruktural
Collis & Biggs (1986) mendeskripsikan bahwa mahasiswa yang dapat memecahkan masalah dengan beberapa strategi yang terpisah. Banyak hubungan yang dapat mereka buat, namum hubungan-hubungan tersebut belum tepat. Respons yang dibuat mahasiswa pada level ini didasarkan pada hal-hal yang konkret tanpa memikirkan bagaimana interrelasinya. Respons tersebut konsisten, namun belum terintegrasi dengan baik. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level multistruktural.
Penelitian Hawkins & Hedberg (1986) tentang evaluasi program computer dengan bahasa LOGO menemukan mahasiswa yang bekerja dengan trial & error. Dia dapat melihat lebih dari satu strategi, tetapi mereka tidak melakukan interrelasi. Dia menggunakan model display dengan lebih dari satu perintah. Dia juga menggunakan mode teks dan berusaha membuat program, namun tidak memiliki kemampuan untuk mengedit, bila terjadi kesalahan dia akan hapus program tersebut, dan memulai dengan yang baru. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level multistruktural.
Hasil penelitian Nulty (2001) menunjukkan bahwa mahasiswa yang memberikan lebih dari satu desain eksperimen, dengan lebih dari satu hipotesis. Desain eksperimen tersebut konvergen, namun dapat memberikan beberapa kemungkinan jawaban. Dia memberikan lebih dari satu interpretasi terhadap suatu argumen namun interpretasi tersebut masih dilakukan secara terpisah. Terkait dengan problem solving, mahasiswa pada level ini memberikan beberapa solusi dari suatu permasalahan. Dia mendemonstrasikan suatu pola pikir dalam dua dimensi. Mahasiswa pada level ini menggunakan dua atau lebih penggal informasi, namun urutan informasi tersebut sering gagal diberikan penjelasan mengapa atau apa hubungan di antara sekumpulan data tersebut. Berkaitan dengan berpikir kritis, mahasiswa memfokuskan pemikiran pada beberapa asfek strategi dan solusi, tanpa mampu menghubungkan antara aspek-aspek dan strategi-strategi yang jelas-jelas saling berkaitan. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level multistruktural.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dismpulkan bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan merespon masalah dengan beberapa strategi yang terpisah. Banyak hubungan yang dapat mereka buat, namum hubungan-hubungan tersebut belum tepat. Respons yang dibuat mahasiswa pada level ini didasarkan pada hal-hal yang konkret tanpa memikirkan bagaimana interrelasinya. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level multistruktural.
Level Relasional
Collis & Biggs (1986) mendeskripsikan bahwa mahasiswa yang merespons suatu tugas berdasarkan konsep-konsep yang terintegrasi, menghubungkan semua informasi yang relevan. Konklusi yang diperoleh secara konsisten secara internal. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level realsional.
Penelitian Hawkins & Hedberg (1986) tentang pemrograman dengan bahasa LOGO menemukan bahwa mahasiswa mampu membuat keputusan, dan mengintegrasikan semua data yang ada. Dia mampu menulis program dalam model teks, dan jika terjadi kesalahan cukup diedit. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level relasional.
Nulty (2001) menemukan bahwa mahasiswa yang memberikan lebih dari satu desain eksperimen, dengan lebih dari satu hipotesis. Mahasiswa tersebut dapat mengaitkan desain dan hipotesis secara bersama-sama. Desain eksperimennya menggunakan pendekatan tahap ganda untuk menemukan perbedaan fakta. Mahasiswa pada level ini dapat memberikan lebih dari satu interpretasi dari suatu argumen. Dia dapat memberikan beberapa solusi untuk suatu problem divergen, dan memberikan hubungan antar solusi yang mungkin. Mahasiswa pada level ini dapat mengaitkan hubungan antara fakta dan teori serta tindakan dan tujuan. Mahasiswa mulai mengaitkan informasi-informasi menjadi satu kesatuan yang koheren, sehingga ia peroleh konklusi yang konsisten. Pemahaman mahasiswa terhadap beberapa komponen terintegrasi secara konseptual. Mahasiswa dapat menerapkan konsep untuk masalah yang familier dan tugas situasional. Mahasiswa dapat mengaitkan bagian-bagian menjadi satu kesatuan. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level relasional.


Level Extended Abstract
Menurut Collis & Biggs (1986) mahasiswa yang dapat memberikan beberapa kemungkinan konklusi. Prinsip abstrak digunakan untuk menginterpretasikan fakta-fakta konkret dan respons yang tepat yang terpisah dengan konteks. Hal ini dilakukannya secara konsisten. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level extended abstract.
Hawkins & Hedberg (1986) mendeskripsikan mahasiswa yang memiliki kemampuan menyusun keterkaitan antar sistem. Dia mampu menulis program dalam model teks dan mengeditnya bila perlu, dengan memunculkan variabel-variabel tertentu. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level extended abstract.
Nulty (2001) juga mendeskripkan mahasiswa yang dapat memberikan lebih dari satu desain eksperimen dengan lebih dari satu hipotesis. Dia memberikan suatu dasar untuk mendesain eksprimen dan membuat hipotesis dari masalah awal. Diagnosis yang dilakukan tidak selalu konvergen, sehingga memungkinkan adanya temuan-temuan baru dan teori baru. Desain eksperimen tersebut menggunakan pendekatan tahap ganda. Dia memberikan lebih dari satu interpretasi tentang suatu argumen, sehingga dapat mengaitkan keterpaduan diantara interpretasi tersebut untuk membentuk suatu gagasan baru. Dalam hal problem solving, mahasiswa pada level ini dapat memberikan beberapa solusi terhadap suatu masalah, memberikan penjelasan tentang hubungan antar solusi yang mungkin, melakukan justifikasi terhadap solusi-solusi tersebut untuk membangun struktur baru. Dalam hal berpikir kritis, menyajikan pemikiran dengan pandangan yang menyeluruh, imajinatif atau original untuk menghubungkan antara aspek yang tidak berhubungan secara langsung. Dia mampu mendemonstrasikan berpikir multidimensi, dan dapat menghubungkan dengan item-item di luar yang ada sehingga terbentuk gagasan baru. Mahasiswa dengan karakteristik seperti tersebut dapat dikategorikan pada level extended abstract.
Dari uraian ini, mahasiswa pada level ini telah berpikir secara konseptual, dan dapat melakukan generalisasi pada suatu area baru. Rincian respons yang dibangun pada suatu pola struktural dapat terintegrasi pada suatu struktur yang lain.

Karakteristik Setiap Sel Ci-Sj
Berdasarkan uraian di atas dapat dideskripsikan karakteristik setiap sel Ci-Sj seperti diuraikan pada matriks berikut.
Tabel 2: Deskripsi dan Karakteristik Setiap Sel Ci-Sj Taksonomi Bloom dan SOLO

Taksonomi Bloom Taksonomi SOLO Sel
Ci-Sj Hipotesis Karakteristik Respon
1 2 3 4
Pengetahuan Pra-struktural C1-S0 Tidak dapat memanggil informasi dari memori jangka panjang atau memanggil informasi dari memori yang tidak relevan dengan masalah.
Uni-struktural C1-S1 Kemampuan memperoleh kembali sebuah informasi dari memori jangka panjang yang relevan dengan masalah.
Multi-struktural C1-S2 Kemampuan memperoleh kembali sebuah informasi dari memori jangka panjang yang relevan dengan masalah lebih dari satu yang bersifat parsial, kalaupun mecoba mengaitkan satu informasi dengan informasi lainya namun keterkaitannya tidak tepat.
Relasional C1-S3 Kemampuan memperoleh kembali sebuah informasi dari memori jangka panjang yang relevan dengan masalah lebih dari satu dan mampu mengaitkan satu informasi dengan informasi lainya.
Extended
Abstract
C1-S4 Kemampuan memperoleh kembali sebuah informasi dari memori jangka panjang yang relevan dengan masalah lebih dari satu dan mampu mengaitkan satu informasi dengan informasi lainya serta dapat memperluas informasi tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Pemahaman Pra-struktural C2-S0 Tidak dapat merumuskan makna yang relevan dengan masalah atau dapat merumuskan makna tetapi tidak relevan dengan masalah.
Uni-struktural C2-S1 Kemampuan merumuskan sebuah makna yang relevan dengan masalah.
Multi-
struktural C2-S2 Kemampuan merumuskan lebih dari satu makna yang relevan dengan masalah tetapi masih bersipat parsial.
Relasional C2-S3 Kemampuan merumuskan lebih dari satu makna yang relevan dengan masalah dan dapat menghubungkan beberapa makna tersebut menjadi satu kesatuan.
Extended
Abstract C2-S4 Kemampuan merumuskan lebih dari satu makna yang relevan dengan masalah dan dapat menghubungkan beberapa makna tersebut menjadi satu kesatuan serta dapat memperluas makna dalam konteks yang lebih luas.
Penerapan Pra-struktural C3-S0 Tidak dapat menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada suatu konteks atau menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada konteks yang tidak tepat.
Uni-struktural C3-S1 Kemampuan menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada satu konteks.
Multi-struktural C3-S2 Kemampuan menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada beberapa konteks namun masih bersifat terpisah kalaupun mencoba mengaitkan antar konteks keterkaitannya tidak tepat.
Relasional C3-S3 Kemampuan menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada beberapa konteks dapat menjelaskan keterkaitannya.
Extended
Abstract C3-S4 Kemampuan menggunakan konsep, prinsip, dan metode pada beberapa konteks dapat menjelaskan keterkaitannya serta memperluas penggunaan dalam konsteks yang umum.
Analisis Pra-struktural C4-S0 Tidak dapat memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan atau dapat memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan tetapi tidak tepat.
Uni-struktural C4-S1 Kemampuan memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan dengan satu model.
Multi-struktural C4-S2 Kemampuan memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan dengan beberapa model tetapi tidak dapat menjelaskan keterkaitan model-model tersebut kalupun mencoba menjelaskan keterkaitan model-model tersebut meruapakan keterkaitan yang tidak tepat.

Relasional C4-S3 Kemampuan memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan dengan beberapa model dan dapat menjelaskan kesetaraan model tersebut.
Extended
Abstract C4-S4 Kemampuan memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian-bagian tersebut dihubungkan dengan beberapa model dan dapat menjelaskan kesetaraan model-model tersebut serta dapat memperluas pada model yang lebih umum.
Sintesis Pra-struktural C5-S0 Tidak dapat membentuk suatu kesatuan dari bagian-bagian atau dapat membentuk suatu kesatuan tetapi tidak tepat.
Uni-struktural C5-S1 Kemampuan membentuk suatu kesatuan dari bagian-bagian dengan satu model.
Multi-struktural C5-S2 Kemampuan membentuk suatu kesatuan dari bagian-bagian dengan lebih dari satu model namun tidak dapat menjelaskan keterkaitan model-model tersebut dan kalaupun mencoba menjelaskan keterkaitan model-model tersebut merupakan keterkaitan yang tidak tepat.
Relasional C5-S3 Kemampuan membentuk suatu kesatuan dari bagian-bagian dengan lebih dari satu model dan dapat menjelaskan keterkaitan model-model tersebut.
Extended
Abstract C5-S4 Kemampuan membentuk suatu kesatuan dari bagian-bagian dengan lebih dari satu model dan dapat menjelaskan keterkaitan model-model tersebut serta dapat memperluas pada model yang lebih umum.
Evaluasi Pra-struktural C6-S0 Tidak dapat memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan satu kriteria, kalaupun dapat memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan satu kriteria tertentu tetapi kriteria yang digunakan tidak tepat.
Uni-struktural C6-S1 Kemampuan memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan satu kriteria untuk menentukan kualitas tertentu.
Multi-struktural C6-S2 Kemampuan memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan lebih dari satu kriteria untuk menentukan kualitas tertentu namun tidak dapat menjelaskan keterkaitan penilaian dengan beberapa kriteria tersebut, kalaupun mencoba mengaitkan keterkaitannya tidak tepat .
Relasional C6-S3 Kemampuan memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan lebih dari satu kriteria untuk menentukan kualitas tertentu dan dapat menjelaskan keterkaitan penilaian dengan beberapa kriteria tersebut.

Extended
Abstract C6-S4 Kemampuan memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan dan metodologi dengan lebih dari satu kriteria untuk menentukan kualitas tertentu dan dapat menjelaskan keterkaitan penilaian dengan beberapa kriteria tersebut serta dapat memperluas untuk kriteria yang lebih umum.

PENUTUP
Model taskonomi dua dimensi ini dapat digunakan untuk menilai kualitas respon siswa terhadap terhadap masalah matematika. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa, pada saat guru melakukan skoring terhadap kualitas jawaban soal uraian masih menggunakan pendekatan “materi”. Artinya, kualitas jawaban soal matematika bentuk uraian ditentukan oleh kompleksitas materi atau panjang-pendek prosedur pengerjaan soal tersebut. Model taksonomi dua dimensi ini tidak hanya mengukur kulitas jawaban dari sisi “isi materi”, tetapi dapat mengukur kualitas berpikir subjek yang menjawab soal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson,Lorin W.;Krathwohl,David R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. New York: Addison Wesley Logman.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.

Biggs, J. & Collis, K.F. 1982. Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy. New York: Academic Press.

Biggs, J.1995. Assesing for learning: Some dimensions underlying new approaches to educational assesment. The alberta Journal of Educational Research 41 (1).
http://www.tedi.uq.edu.au/downloads/Biggs_SOLO.pdf

Biggs,J.1999. Teaching for quality at University. Second Edition. Buckingham: SRHE/OU press

Bloom, Benyamin S. 1979. Taksonomy of Educational Objectives (The Clasification of Educational Goals) Handbook 1 Cognitive Domain. London: Longman Group Ltd.

Bogdan, Robert C. and Biklen, Sari Knopp.1982. Qualitative Research for Education: An introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon.

Collis, K. F. & Biggs J. B. 1986. Using The SOLO Taxonomy.
http://www.hebes.mdx.ac.uk/teaching/

Davis,Robert B.1984. Learning Mathematics, The Cognitive Science Approach to Mathematics Education. Croom Helm:London & Sidney

Goldin,G.A.1998. Observing Mathematical Problem Solving Through Task-based Interviews. In: A.Teppo (Ed.) Qualitative Research Methods in Mathematics Education. Monograph No. 9 Journal for Research in Mathematical Education (JRME).

Hartanto Sunardi. 2006. Taksonomi SOLO Plus. Disertasi Doktor P. Matematika UNESA: Tidak Dipublikasikan.

Hawkins, W & Hedberg, J.G.1986. Evaluating LOGO: Use of the SOLO Taxonomy. Australian Journal of Educational Technology. 2(2)
http://www.ascilite.org.au/ajet/ajet2/

Hughes, Dave.1999. Materials and Designs – Use of SOLO.
http://www.bradford.ac.uk/acad/civeng/

Nulty, Duncan.2001. Enhancing the transition of first year science students – a strategic and systematic approach . http://www.adcet.edu.au/ uploads/documents/055.doc

Soedjadi,R. 1999/2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Ditjen Dikti.Depdiknas.

Tjokrodihardjo, Soegijo. 2001. Taksonomi Tujuan Pendidikan (Buku I Bidang Kognitif) Alih Bahasa. Surabaya: Unesa University Press.

Widada,Wahyu.2003. Struktur Representasi Pengetahuan Mahasiswa tentang Permasalahan Grafik Fungsi dan Kekonvergenan Deret Tak Hingga pada Kalkulus. Disertasi Doktor P. Matematika UNESA: Tidak Dipublikasikan.

Winkel,W.S.,1996. Psikologi Pengajaran (Edisi Revisi) Cetakan ke-5. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.




LAPORAN LESSON STUDY

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Selama ini proses pembelajaran Matematika kurang mendapat perhatian dari orang tua dan pemerintah. Proses pembelajaran Matematika yang terjadi di dalam kelas jarang ada yang tahu kecuali guru itu sendiri. Kebanyakan pengawas dari dinas pendidikan belum berfungsi sebagai supervisor pembelajaran di kelas. Ketika datang di sekolah, pengawas memeriksa kelengkapan administrasi guru berupa dokumen Perangkat Pembelajaran Matematika. Pengawas jarang masuk kelas melakukan observasi terhadap pembelajaran dan menjadi nara sumber pembelajaran bagi guru di sekolah. Begitu juga kepala sekolah. Kepala sekolah umumnya lebih mementingkan dokumen administrasi guru, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari pada masuk kelas melakukan observasi dan supervisi terhadap pembelajaran oleh seorang guru. Akibatnya guru tidak tertantang melakukan persiapan mengajar dengan baik, memikirkan metode mengajar yang bervariasi, mempersiapkan bahan untuk pembelajaran matematika.
Umumnya pembelajaran Matematika dilakukan dalam bentuk satu arah. Guru lebih banyak ceramah dihadapan siswa sementara aktivitas siswa lebih banyak mendengarkan. Masih ada Guru yang beranggapan bahwa tugasnya hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki dengan target tersampaikannya pokok-pokok bahasan Matematika yang tertulis dalam dokumen kurikulum. Pada umumnya guru kurang memberi inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan kurang melatih siswa untuk hidup mandiri. Pelajaran yang disajikan guru kurang menantang siswa untuk berpikir. Akibatnya siswa tidak menyenangi pelajaran.
Sekolah sebagai salah satu lembaga yang diharapkan mampu menghasilkan manusia berkualitas, maka penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, berdedikasi tinggi, kreatif dan inovatif, sehingga berjalan dengan baik sesuai dengan sistem dan norma yang berlaku. Upaya memberdayakan sumberdaya manusia yang dimiliki sekolah sangat penting. Ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, akan membawa sekolah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Guru merupakan salah satu sumber daya manusia di sekolah, yang memiliki peran penting. Proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak akan dapat berjalan jika tidak ada guru. Pemberdayaan guru menjadi tugas penting yang harus dapat diwujudkan oleh kepala sekolah di sekolah, sehingga guru dapat bekerja produktif seperti mengajar dengan penuh tanggungjawab, berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin dan sebagainya.
Masyarakat telah mengakui bahwa guru memegang peranan yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan pada alenia keempat pembukaan undan- undang 1945. Untuk mengemban amanat tersebut seorang guru haruslah seorang professional karena kesehariannya berhadapan dengan tugas yang menuntut tanggung jawab moral dalam mendidik generasi muda dalam menyiapkan masa depan agar kelak dapat menjadi manusia yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, bagi masyarakat maupun bagi nusa dan bangsa.
Pengakuan bahwa guru adalah tenaga professional telah ditegaskan dalam undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 29. “ Pendidik merpakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan tugas pembelajaran , menilai hasil pembelajaran dan….”
Walaupun jabatan guru telah diakui sebagai profesi, belum berarti semua guru sudah profesional. Semua guru telah menyadari bahwa seorang guru harus professional namun masih sedikit yang sadar untuk berusaha mengembangkan diri untuk menjadi guru yang professional. Sangat sedikit guru yang mampu melihat kelemahan dirinya dalam melaksanakan profesinya. Sebagai suatu contoh masih sering dijumpai guru melimpahkan kesalahan kepada siswa bila siswa tidak berhasil mencapai prestasi belajar yang diharapkan tanpa ada usaha untuk melihat kekurangan yang ada pada diri guru itu sendiri.
Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh guru dalam mempersiapkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, khususnya pembelajaran matematika dapat ditunjukkan melalui kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, mulai dari pemahaman terhadap landasan kurikulum, pengembangan silabus, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa, sampai pada penyusunan alat evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada permasalahan tersebut di atas.
Mencermati apa yang termuat dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 39 ayat 2 dan Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 8, berkaitan dengan tugas guru dalam pembelajaran, maka dapat diambil dua hal penting yaitu guru sebagai agen pembelajaran dan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran.
Dalam rangka menepis anggapan umum di atas dan mewujudkan kondisi ideal guru dan pembelajaran, maka melalui kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar guru diharapkan dapat mengatasi hal-hal tersebut dengan melakukan Lesson Study. Sehingga guru dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya. Dengan melaksanakan Lesson Study, wawasan guru akan berkembang dan termotivasi untuk selalu berinovasi yang selanjutnya akan menjadi guru yang profesional.
Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) dalam program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan merupakan salah satu kulminasi atau muara program yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk memantapkan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
Mengelola pembelajaran di kelas merupakan salah satu pekerjaan guru profesional yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu untuk menjalankan profesi tersebut diperlukan penguasaan sejumlah kompetensi yang mendukung, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Sebagai wujud dari penguasaan kompetensi ini, setiap tindakan guru dalam mengelola pembelajaran merupakan tindakan pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, profesi dan moral.
Kompetensi yang dimiliki oleh peserta dalam PKM diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang sistematik dan terpercaya oleh institusi yang berkompeten. Proses pemerolehan kompetensi tersebut melalui banyak interaksi bermakna, yaitu interaksi antar peserta, peserta dan guru pamong, peserta dan dosen pembimbing, peserta dan siswa, peserta dan bahan ajar. Oleh karena itu, pelaksanaan PKM harus memberikan kesempatan, agar terjadi interaksi-interaksi tersebut yang akan menumbuhkembangkan kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang guru.
PKM yang diselenggarakan oleh kebanyakan LPTK dilaksanakan individual, yaitu seorang mahasiwa/praktikan mempersiapkan rencana pembelajaran dan mengimplementasikannya secara mandiri di bawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbingnya, tanpa melibatkan mahasiswa/praktikan lain. Selain itu, yang menjadi fokus utama dalam PKM adalah praktikan, tanpa menunjukkan bagaimana siswa yang menjadi subjek pembelajaran.
Pada pelaksanaan PKM guru Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan ini didesain adanya kebersamaan guru/praktikan dalam melaksanakan PKM. Kebersamaan ini terjadi pada pembahasan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan perangkatnya, seperti media, LKS atau alat pembelajaran, observasi praktik implementasi RPP di kelas dan kegiatan refleksi yang mendiksusikan kegiatan pembelajaran yang baru saja dilaksanakan berdasarkan hasil observasi dalam rangka perbaikan RPP dan perbaikan pembelajaran berikutnya. Dalam kebersamaan ini tidak akan mengurangi kemandirian praktikan, karena praktikan tetap menyusun RPP secara mandiri, demikian pula harus memperbaikinya berdasarkan hasil diskusi/pembahasan yang telah dilakukan. Dengan adanya kegiatan observasi akan memberikan kesempatan kepada para praktikan untuk berlatih dalam mengevaluasi pembelajaran yang didalamnya tersirat adanya keterampilan mengumpulkan data, mengolah dan mengemukakan hasilnya. Kemampuan ini sangat penting bagi guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari untuk senantiasa memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajarannya yang didasarkan pada hasil observasi.

B. Tujuan
Kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar melalui Lesson Study bertujuan agar guru mampu:
1. Melakukan pemantapan kemampuan profesional guru
2. Melakukan pembeajaran yang berorientasi pada peserta didik dalam mengembangkan potensinya
3. Mendalami karakteristik dari peserta didik dalam rangka memotivasi belajarnya
4. Menemukan permasalahan yang menghambat proses pembelajaran di kelas dan mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut secara individu atau kelompok.
5. Menerapkan pembelajaran inovatif, yang bertolak dari suatu permasalahan pembelajaran.
6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik dan mampu mengimplementasikannya.
7. Trampil dalam mengobservasi kegiatan pembelajaran, mengolah hasil obeservasi dan menyampaikannya secara sistematis.
8. Melakukan evaluai proses dan hasil pembelajaran
9. Mampu bekerjasama dalam mengembangkan kepribadiannya sebagai guru.
10. Mampu mengkomunikasikan proses dan hasil pembelajarannya secara lisan dan tertulis.

C. Prinsip Pelaksanaan PKM
Pelaksanaan pada Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan berprinsip adanya kerjasama sesama guru peserta, sehingga saling memberi dan menerima (sharing) pengalaman mengajar dalam menentukan masalah pembelajaran dikelas, menyusun rencana pembelajaran, implementasi rencana dan mengobservasi serta melakukan refleksi pada kegiatan-kegiatan tersebut.
Secara rinci prinsip pelaksanaan PKM dengan Lesson Study adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan PKM dengan Lesson Study bertolak dari permasalahan pembelajaran suatu bidang studi di Sekolah Menengah Pertama (khususnya di SMP Negeri 1 Depok)
2. Semua kegiatan PKM dengan Lesson Study dilaksanakan secara kolaborasi antara guru peserta dan pembimbing berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas (kesejawatan) dan mutual learning ( pembelajaran yang saling membantu).
3. Adanya kesepakatan (hasil diskusi) dalam penyusunan RPP yang merupakan pemecahan masalah atau penerapan pembelajaran inovatif dan pedoman observasinya, demikian juga pada kegiatan refleksinya.
4. Pembelajaran yang dilakukan harus berorientasi pada kegiatan siswa dalam rangka mengembangkan potensinya
5. Adanya observer dari guru peserta lain dan guru pamong dalam praktik pelaksanaan pembelajaran
6. Observasi proses pembelajaran, yaitu mengamati kesesuaian pelaksanaan pembelajaran dengan RPP dan lebih menekankan pengamatan pada aktifitas belajar siswa sebagai respon dari implementasi RPP
7. Adanya kegiatan refleksi yang dilaksanakan sesegera mungkin setelah selesai praktik pembelajaran dan observasi.
8. Diskusi dalam kegiatan refleksi didasarkan pada hasil observasi, bukan hanya berdasarkan teori/opini.
9. Adanya komitmen bersama antara anggota kelompok guru peserta untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

D. Manfaat Lesson Study
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar guru melalui Lesson Study antara lain:
1). Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)
2). Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya
3). Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.
4). Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.
5). Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa
6). Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

BAB II
PELAKSANAAN PKM

Pelaksanaan Pemantapan Kemampuan Mengajar pada Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta menggunakan prinsip Lesson Study, yaitu adanya kerjasama sesama guru peserta, sehingga saling memberi dan menerima (sharing) pengalaman belajar dalam menentukan masalah pembelajaran di kelas melalui kegiatan perencanaan (plan), implementasi rencana pembelajaran di kelas (do), dan refleksi tentang hal-hal yang terjadi pada proses pembelajaran di kelas (see ). Hal – hal yang diuraikan dalam bab ini adalah jadwal PKM; kegiatan putaran I, II, dan III yang berisi tentang pembahasan RPP, implementasi RPP dan hasil refleksi pembelajaran.
Lesson Study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu Lesson Study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) Lesson Study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002).
Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan Lesson Study para guru dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002).
Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:
Tahap 1: Pemilihan topik Lesson Study
Tahap 2: Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
Tahap 3: Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
Tahap 4: Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
Tahap 5: Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan semua anggota kelompok Lesson Study untuk mendapatkan balikan.
Tahap 6: Guru yang ditunjuk tersebut memperbaiki kembali secara lebih detail rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas.
Tahap 7: Para guru dapat mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti : hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.
Tahap 8: Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda

A. Daftar Kelompok dan Jadwal Kegiatan PKM
Pelaksanaan PKM diawali dengan kegiatan workshop PKM yang diselenggarakan oleh pengelola program sertifikasi jalur pendidikan jurusan pendidikan matematika pada hari selasa tanggal 10 Pebruari 2009 jam 11.00 – 15.00 WIB di ruang seminar gedung D FMIPA UNY. Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh pengelola program, dosen pembimbing, guru peserta sertifikasi serta pihak sekolah dalam hal ini guru pamong. Acara kegiatan tersebut, diantaranya paparan tentang pedoman PKM, pengetahuan Lesson Study, pembentukan kelompok praktik mengajar, diskusi guru peserta dengan guru pamong dan dosen pembimbing, serta simulasi tentang lesson study. pembagian kelompok mengajar, penulis mendapat tugas PKM di SMP Negeri 1 Depok. Dalam diskusi dengan peserta sertifikasi, guru pamong dan dosen pembing diputuskan membuat daftar kelompok (kepengurusan kecil) dan jadwal kegiatan PKM. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh daftar kelompok dan jadwal rencana kegiatan PKM (terlampir).
Sedang selaku guru Pamong adalah Bapak Suhardi, S.Pd dan Ibu Dyah Wardani, serta selaku dosen pembimbing adalah Ibu Atmini Dhoruri, MS.
Dari penyusunan jadwal tersebut, dilanjutkan kunjungan ke sekolah praktik yaitu SMP Negeri 1 Depok, pada hari Selasa tanggal 17 Pebruari 2009. Pertemuan di SMP Negeri 1 Depok tersebut, dihadiri Wakil kepala sekolah selaku wakil dari Kepala Sekolah (sehubungan dengan adanya tugas dinas luar yang harus dilaksanakan Kepala Sekolah), dosen pembimbing, guru pamong, serta guru praktikan. Dalam pertemuan tersebut dapat diketahui bahwa SMP Negeri 1 Depok merupakan SSN yang yang memiliki segudang prestasi baik dalam bidang akademis maupun non akademis. Sehingga siswa-siswanya selain diajarkan ilmu pengetahuan (teori) juga dibekali pengembangan bakat dan minat serta pengembangan diri. Kunjungan ke sekolah ini diakhiri dengan silaturahmi dengan segenap guru dan TU SMP N 1 Depok serta kunjungan ke ruang-ruang teori, ruang multimedia, laboratorium, perpustakaan, dan lingkungan sekolah lainnya.

B. Kegiatan Setiap Putaran
Kegiatan setiap putaran dalam PKM, menyesuaikan tahapan Lesson Study yang digunakan. Lesson Study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:
1. Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap plan.
2. Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap do.
3. Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer. Kegiatan ini disebut tahap see.
Berikut adalah penjelasan kegiatan setiap tahapnya:
a) Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok Lesson Study)
tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru kelompok SMP N 1 Depok dan guru Pamong serta Dosen Pembimbing dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, guru Pamong dan Dosen Pembimbing mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh para guru Praktikan, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan Life Skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.
Hal penting yang didiskusikan pula dalam kegiatan PKM berbentuk Lesson Study ini adalah penyusunan/penggunaan lembar observasi (Tim UNY sudah membuatkan), terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas :
i. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
ii. Lembar Kerja Siswa (LKS)
iii. Media atau alat peraga pembelajaran
iv. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.
v. Lembar observasi pembelajaran.
Penyusunan perangkat pembelajaran ini dilakukan oleh seorang guru dalam kelompok mengacu pada aspek-aspek pembelajaran ditetapkan dalam buku Panduan Pelaksanaan PKM. Hasil penyusunan perangkat pembelajaran selanjutnya dikonsultasikan dengan guru/peserta lainnya dalam kelompok SMP N 1 Depok, guru Pamong dan Dosen Pembimbing untuk proses penyempurnaannya.
b) Implementasi dan Observasi
Pada tahap ini seorang Praktikan yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, menurut jadwal pelaksanaan PKM individu melakukan implementasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun tersebut, di kelas. Guru Pamong, Dosen Pembimbing dan guru/peserta lainnya melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu dilakukan rekaman foto dan video (short shooting) yang meng-close-up kejadian-kejadian khusus (pada guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini digunakan sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi dari implementasi. Di samping itu akan digunakan sebagai bahan laporan hasil pelaksanaan PKM.
c. Refleksi
Selesai praktik pembelajaran, kemudian dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru/praktikan yang tampil dan para observer (guru/peserta lainnya, guru Pamong dan Dosen Pembimbing) mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin Ketua Kelompok SMP N 1 Depok dengan moderator secara bergantian dari anggota-anggota kelompok yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama praktikan yang melakukan implementasi rencana pembelajaran menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi.
Selanjutnya observer (guru lain, guru pamong dan dosen pembimbing) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajara. Selanjutnya, guru/praktikan yang melakukan implementasi tersebut memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hasil tahap refleksi ini selanjutnya digunakan untuk mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

1. Kegiatan Pada Putaran I
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Kegiatan penyusunan dan pembahasan RPP ini masuk pada kegiatan planning. Dalam tahapan ini kami menyusun RPP dan menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana RPP tersebut akan dilakukan.
Materi yang akan dibahas pada putaran I ini adalah Pengertian SPLDV, Perbedaan PLDV dan SPLDV, dan Himpunan Penyelesaian. plan dalam Lesson Study ini meliputi kegiatan:
1). Penyusunan rencana pembelajaran yang bernuansa kontekstual dengan model yang digunakan adalah Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. 2). Menyusun Lembar Kerja Siswa dengan ciri khas Direct Instruction dan Cooperative Learning.
3). Menyiapkan instrument penilaian meliputi instrument penilaian kemampuan kognitif (berupa tes UH dan pengukuran kinerja kognitif), instrument penilaian kemampuan afektif dalam kegiatan kelompok serta instrument penilaian kinerja psikomotorik.
4). Menyiapkan lembar observasi kegiatan pembelajaran.
Adapun sintak model pembelajaran kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning yang digunakan dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:
FASE-FASE TINGKAH LAKU
Fase 1
Menyampaikan tujuan, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa
Fase 2
Menyajikan informasi dan mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut, memotivasi siswa untuk belajar, materi prasyarat dan mempersiapkan siswa untuk belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan keterampilan tahap demi tahap
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok dan membimbing siswa dalam pelatihan
Fase 4
Membimbing siswa dalam kelompok bekerja dan belajar dan mengecek pemahaman siswa serta memberikan umpan balik
Fase 5
Memberikan latihan dan penerapan konsep serta melaksanakan evaluasi
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mengatur cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien kemudian memberikan latihan terbimbing
Guru membimbing siswa dalam kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka dan mengecek kemampuan siswa serta memberikan umpan balik
Guru memberikan latihan dan penerapan konsep serta mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
b. Implementasi RPP
Kegiatan implementasi RPP (do) meliputi tahapan praktek pembelajaran (acting) dan pengamatan (observing). Acting; pada tahap ini rancangan strategi dan scenario penerapan pembelajaran yang diterapkan. Sedang observing; tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan. Jadi keduanya berjalan pada waktu yang sama. Instumen yang digunakan sabagai alat pengamatan dapat lembar observasi.
Pembelajaran pada putaran I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 Februari 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu Sintaks Model Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. Pada fase pertama (ada pada kegiatan pendahuluan), kami menyampaikan tujuan belajar, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Kemudian dalam kegiatan inti, kami melaksanakan fase-fase lainnya seperti:
(i) mendemonstrasikan pengetahuan dengan teknik bertanya kemudian menjelaskan prosedur menggunakan LKS untuk menyelesaikan tugas belajar;
(ii) menyiapkan siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya;
(iii) membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengcek pemahaman siswa.
Kegiatan siswa dalam fase ini antara lain:
- Siswa diberi tugas sesuai LKS 1-3 yang membimbing siswa menemukan pengetahuan melalui tahapan-tahapan yang sistematis.
- Masing-masing kelompok melaksanakan tugas belajar di tempat duduk yang telah disiapkan, dan
- Kegiatan mempersentasikan jawaban.
Sedang kegiatan observasi dilaksanakan oleh guru Pamong, Dosen Pembimbing dan guru-guru kelompok SMP N 1 Depok yang sedang tidak menjadi Praktikan. Observasi lebih difokuskan pada tiga aspek, yakni: (1) penerapan model pembelajaran, (2) inovasi guru dalam pembelajaran (pengembangan dan penyampaian materi, pengelolaan kelas dan (3) pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Adapun hasil observasi terlampir.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Refleksi dilakukan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dievaluasi guna menyempurnakan rencana tindakan berikutnya. Hasil diskusi refleksi pada putaran I terlampir dalam laporan ini.
Adapun hasil refleksi pembelajaran pada putaran I yang perlu dipertimbangkan dan dijadikan acuan pada rencana tindakan berikutnya adalah bahwa hasil belajar belum optimal disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Siswa belum terbiasa berfikir sistematis. Sehingga ada beberapa siswa yang kurang memahami maksud soal dan langkah-langkah sistematis dalam pembelajaran yang dibimbing oleh LKS yang bercirikan model kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. Akibatnya banyak siswa yang masih kesulitan menyelesaikan masalah/soal matematika. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan usaha guru menjelaskan kepada siswa atau kelompok diskusi yang masih memerlukan penjelasan terhadap tugas yang harus dikerjakan.
2. Siswa masih merasa malu dan ragu untuk bertanya, menjawab maupun berpendapat baik yang ditujukan kepada teman kelompok maupun gurunya. Keadaan ini membutuhkan motivasi dan kiat dari Praktikan untuk memunculkan keberanian pada siswa.
3. Siswa belum terbiasa melakukan persentasi hasil diskusi kelompok. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan memantapkan pembelajaran pada putaran/pertemuan berikutnya.
4. Siswa belum memahami benar struktur pembelajaran yang dikehendaki. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan menyampaikan sejelas-jelasnya tentang kegiatan –kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

2. Kegiatan Putaran II
Pada bagian ini, kami akan menyampaikan deskripsi kegiatan pembelajaran pada putaran II dari perencanaan (plan), implementasi dan observasi (do: action and observing).
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Dalam tahapan ini dengan memperhatikan hasil identifikasi masalah pada kelas praktek (IX C) kami menyusun dan membahas Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran dari sisi pemilihan materi, penggunaan model dan metodenya, Lembar Kerja Siswa, alat evaluasinya dan lembar observasinya.
1) Materi yang akan dibahas pada putaran II ini adalah Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dan Menyelesaikan Model Matematika dengan Menggunakan SPLDV. Materi ini melanjutkan materi pada putaran sebelumnya yang masih dalam satu Standar Kompetensi.
2) Rencana pembelajaran yang disusun bernuansa kontekstual dengan menggunakan model yang sama pada kegiatan putaran I yakni Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning dengan sintak pembelajaran yang sama pula.
3) Menyusun Lembar Kerja Siswa dengan ciri khas Direct Instruction dan Cooperative Learning.
4) Alat evaluasi yang mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam belajar menggunakan tes tertulis berupa uraian.
5) Lembar observasi kegiatan pembelajaran yang disusun loeh TIM UNY tetap digunakan. Karena dipandang cukup valid dan mengukur semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
b. Implementasi RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran matematika yang kedua dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 5 Maret 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu sintak model kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning yang terdiri dari beberapa fase. Pada fase pertama, peneliti menyampaikan tujuan belajar, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Caranya antara lain: (i) Mengatakan kepada siswa bahwa pada pertemuan ini selain siswa diharapkan dapat menentukan himpunan penyelesaian dengan tiga cara, juga diharapkan dapat bekerja sama dan saling menghormati hasil kerja teman dalam menyampaikan pendapat maupun mempresentasikan hasil kerjanya, (ii) Menanyakan kepada siswa apakah sudah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan belajarnya, dan (iii) Dengan Tanya jawab siswa diminta menjelaskan pengertian SPLDV (dimaksudkan agar siswa yang sebelumnya tidak belajar minimal akan menyiapkan dan membuka buku pelajaran). Pada fase kedua, peneliti meyajikan informasi dan mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan teknik bertanya, kemudian menjelaskan prosedur penggunaan LKS untuk menyelesaikan tugas belajar. Pada fase ke tiga, praktikan mengorganisasikan siswa ked ala kelompok-kelompok dan membimbing siswa dalam pelatihan. Caranya siswa disiapkan duduk sesuai dengan kelompoknya. Fase yang keempat, praktikan membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta memberikan umpan balik. Kegiatan siswa pada fase ini antara lain: (i) siswa diberi tugas sesuai LKS 4, LKS 5 dan LKS 6 yang membimbing siswa menemukan pengetahuan (jawaban) melalui tahapan-tahapan yang sistematis, (ii) Masing-masing kelompok melaksanakan tugas belajar di tempat duduk yang telah disiapkan, dan (iii) Untuk tugas belajar yang bersifat individu tiap-tiap siswa diberi kesempatan untuk maju mempresentasikan hasil. Sedang siswa lain menanggapi. Demikian pula untuk tugas kelompok, ada tiap-tiap delegasi kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi. Sedang kelompok lain menanggapi.
Kegiatan diskusi di atas dimaksudkan agar siswa dapat mengecek pemahamannya sendiri dan sekaligus sebagai umpan balik terhadap kegiatan belajar yang dialaminya. Pada fase keempat ini guru juga membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
Fase kelima. Praktikan memberikan latihan dan penerapan konsep serta melaksanakan evaluasi. Siswa diminta mengerjakan tes tertulis untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Kemudian diikuti fase keenam dengan memberikan penghargaan (pujian) atas prestasi belajar kelompok.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Hasil refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan pada putaran II adalah bahwa perkembangan pembelajaran pada putaran II mengalami peningkatan yang cukup berarti. Model pembelajaran kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning dapat berjalan cukup baik. Mungkin selain karena materi lanjutan ini masih dalam satu standar kompetensi juga karena model ini sudah dilaksanakan pada putaran sebelumnya. Kontribusi siswa dalam kerja kelompok semakin optimal. Namun demikian hasil diskusi belum sesuai yang diharapkan. Karena soal yang dibuat berbobot Olympiade Nasional. Seharusnya cukup soal-soal standar yang biasa dipakai dalam ulangan akhir semester maupun ujian nasional.

3. Kegiatan Putaran III
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Dalam tahapan ini dengan memperhatikan hasil identifikasi masalah pada kelas praktek (IX C) kami menyusun dan membahas Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran dari sisi pemilihan materi, penggunaan model dan metodenya, Lembar Kerja Siswa, alat evaluasinya dan lembar observasinya.
1) Materi yang akan dibahas pada putaran I ini adalah Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dan Menyelesaikan Model Matematika dengan Menggunakan SPLDV. Materi ini melanjutkan materi pada putaran sebelumnya yang masih dalam satu Standar Kompetensi.
2) Rencana pembelajaran yang disusun bernuansa kontekstual dengan model yang digunakan adalah Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning.
3) Menyusun soal kuis lengkap dengan kunci jawabannya.
4) Alat evaluasi yang mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam belajar menggunakan tes tertulis berupa uraian.
5) Lembar observasi kegiatan pembelajaran yang disusun loeh TIM UNY tetap digunakan. Karena dipandang cukup valid dan mengukur semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
b. Implementasi RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran matematika yang ketiga dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 12 Maret 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu sintak model Pembelajaran Interaktif Learning – Direct Instruction yang memadukan teknik janya jawab dan diskusi kelompok serta pemberian tugas.
Interaktif Learning dimaksudkan bahwa pembelajaran yang berlangsung menggunakan media pembelajaran note book, LCD dan software berupa power point yang memuat proses penjelasan materi disertai contoh penyelesaian dan soal-soal latihan yang dilakukan secara interaktif, yakni siswa diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menjawab berdasarkan perolehan pengetahuan dari penjelasan materi untuk selanjutnya di cross-ceck dengan jawaban yang tersedia dalam software tersebut. Sedang Direct Instruction dimaksudkan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara langsung melalui penjelasan materi dan latihan soal secara bertahap dan sistematis pula serta mengacu pada indikator keberhasilan pembelajaran. Dalam putaran ketiga ini materi yang dibahas adalah Melukis Lingkaran Dalam dan Lingkaran Luar Suatu Segitiga.
Pelaksanaan Pembelajaran pada putaran ketiga ini meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan siswa diberi apersepsi dan motivasi. Apersepsi dilaksanakan dengan tanya jawab. Dimana guru mengingatkan kembali tentang melukis garis yang saling tegak lurus, garis bagi dan sumbu sebuah garis. Agar siswa memiliki semangat belajar yang tinggi, maka siswa diminta melihat Motivation-CD agar siswa lebih serius dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan.
Pada kegiatan inti, siswa diminta untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4 anggota. Selanjutnya siswa diminta untuk belajar mengikuti tayangan CD interaktif pembelajaran yang telah dijalankan dan mencatat hal-hal yang sekiranya penting. Setelah penayangan CD tentang melukis lingkaran dalam segitiga, guru menanyakan pada siswa apakah sudah jelas dengan tayangan tersebut, jika ada yang belum diulangi kembali atau meminta salah satu siswa untuk menjalankannya lagi. Setelah selesai penayangan, siswa secara berkelompok diminta mendiskusikan soal tentang melukis lingkaran dalam segitiga yang sudah tersedia dalam Lembar Kerja Siswa yang telah dibagikan. Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan pengarahan dan bantuan secukupnya pada kelompok yang mengalami kesulitan. Selanjutnya beberapa siswa diminta mempresentasikan hasil diskusinya dan ditanggapi oleh siswa yang lain. Guru membimbing siswa menuju jawaban yang benar. Setelah selesai guru meminta siswa mempehatikan materi berikutnya tentang Materi Melukis lingkaran Luar segitiga yang langkahnya sama ketika menjelaskan materi Melukis Lingkaran dalam Segitiga. Sebagai umpan balik, guru mengadakan kuis melalui Instructional – CD.
Dan pada akhir pembelajaran, Guru membimbing siswa untuk merangkum materi pelajaran yg telah dipelajari dan meminta siswa menuliskan hal-hal yang berkesan baginya selama mempelajari materi ini. Siswa diminta juga untuk mengerjakan latihan di rumah.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Hasil refleksi pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dan dijadikan acuan pada rencana pelaksanaan pembelajaran berikutnya antara lain:
1. Bahwa model pembelajaran interaktif dengan memanfaatkan multimedia mampu melibatkan siswa secara aktif baik fisik, mental maupun pikiran. Sehingga motivasi dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
2. Dalam dinamika kelompok, semakin fokus materinya dan jelas tugasnya, maka siswa akan semakin termotivasi untuk menguasai materi.
3. Adanya pemberian motivasi sebelumnya, ternyata berpengaruh pada makin mantapnya persentasi hasil kerja kelompok. Siswa sudah berani berbicara didepan kelas untuk menjelaskan bagaimana menentukan jari-jari lingkaran dalam dan luar segitiga.
4. Diperlukan kontinuitas pembelajaran interaktif yang menyenangkan pada pertemuan-pertemuan yang lain di sekolah masing-masing agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara maksimal.


BAB III
HAMBATAN DAN PEMECAHAN
A. Hambatan
Kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yaitu tiga putaran dengan menggunakan prinsip Lesson Study yang meliputi kegiatan perencanaan pelaksanaan pembelajaran (plan), implementasi dan observasi pembelajaran (do) dan refleksi (see). Dalam pelaksanaan kegiatan PKM tersebut secara keseluruhan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan kami menemukan makna kegiatan PKM yang bernuansa Lesson Study, yaitu menciptakan komunitas guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Ada tukar pikiran (berdiskusi) tentang hambatan maupun keberhasilan yang selama ini dihadapi guru dalam melakukan pembelajaran di sekolahnya masing-masing serta mencari solusi terhadap pelaksanaan pembelajaran di sekolah tempat praktek yaitu di SMP Negeri 1 Depok. Mulai mendesain rencana pembelajaran matematika sehingga menghasilkan perangkat pembelajaran yang baik, memecahkan persoalan dalam pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan tiap putaran, terutama menemukan cara agar siswa dapat senang belajar matematika, menentukan media maupun alat peraga serta lembar kegiatan siswa yang cocok digunakan dalam implementasi suatu pembelajaran.
Walaupun demikian, ada beberapa kendala yang hadapi selama melaksanakan PKM di SMP Negeri 1 Depok, antara lain:
1. Dalam kelompok masih ada perbedaan presepsi dalam pelaksanaan PKM melalui Lesson Study
2. Pengertian Lesson Study yang dipahami oleh kelompok dan penulis sendiri masih minim ( baru melakukannya)
3. Kondisi siswa yang menjadi tempat pelaksanaan implementasi RPP adalah kelas 9, dimana semua materi sudah diberikan, sehingga sebagian siswa merasa bosan dan tak termotivasi karena materi yang disampaikan oleh para guru model semuanya sudah mereka dapatkan
4. Dalam melakukan observasi rumusan masalah kelompok kami belum optimal melakukannya
5. Ada perasaan sungkan pada masing-masing anggota kelompok manakala kita memerlukan media pembelajaran seperti Laptop, LCD, OHP dimana pada kelompok kami kelengkapan tersebut belum dimiliki oleh masing-masing anggota/individu sehingga ada perasaan takut membebani sekolah tempat praktik.
6. Ada perasaan tak bebas mengajar pada kelompok kami. Karena yang dihadapi adalah siswa-siswa sekolah lain yang karakteristik dan sifat-sifat siswa tersebut belum sepenuhnya dipahami sehingga dalam pelaksanaan PBM tidak optimal.

B. Pemecahan
Dengan memperhatikan hambatan-hambatan yang terjadi serta berbagai faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan Lesson Study, maka usaha-usaha yang dapat dilaksanakan dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Dalam kelompok dan individu masing-masing mencoba mencari buku referensi utamanya tentang pengertian Lesson Study dan tahap-tahap Lesson Study serta minta petunjuk dari dosen pembimbing dan guru pamong tentang pelaksanaan Lesson Study. Dengan demikian kami dapat menyamakan persepsi tentang Lesson Study yang pada akhirnya munculah kebersamaan dalam kelompok.
2. Agar pelaksanaan Lesson Study dapat berjalan dengan baik, kelompok kami SMP N 1 Depok selalu bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin dengan tindakan dan masukan serta motivasi dari guru pamong serta dosen pembimbing
3. Dengan percaya diri, bahwa pada dasarnya siswa sebenarnya sama yaitu mereka haus dengan hal-hal yang baru, maka kelompok kami mencoba memberikan materi yang dianggap penting bagi siswa berdasarkan identifikasi dengan menggunakan teknik, strategi dan pendekatan pembelajaran yang inovatif disertai dengan media dan alat pembelajaran yang inovatif, karena dengan hal tersebut mereka akan termotivasi bahwa matematika itu tidak monoton, bisa mengikuti perkembangan jaman.
4. Berdialog dengan guru pamong dan dosen pembimbing serta teman-teman praktikan lainnya dalam satu kelompok tentang upaya mandiri untuk dapat menampilkan hal yang inovatif, sehingga dapat membelajakan siswa dengan tepat, berkesan, bermakna, dan menyenangkan.
5. Meningkatkan interospeksi diri melalui diskusi dengan guru pamong dan dosen pembimbing dalam kegiatan refleksi yang didasarkan pada hasil observasi dan bukan berdasarkan teori/opini. Disertai dengan adanya komitmen bersama antara anggota kelompok guru peserta untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
6. Meningkatkan keterampilan dalam mengobservasi kegiatan pembelajaran, mengolah hasil observasi dan menyampaikannya secara sistematis, melakukan evaluasi proses dan hasil pembelajaran, bekerjasama dalam mengembangkan kepribadiannya sebagai guru, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi selama proses pembelajaan dan ketika menyampaikan hasil pembelajarannya secara lisan maupun tertulis.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan, hambatan serta pemecahannya kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar dengan menerapkan Lesson Study di SMP Negeri 1 Depok, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Tujuannya adalah untuk (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Bercirikan adanya (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung. Dan bermanfaat agar (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
2. Lesson Study yang dilaksanakan berbasis sekolah tepatnya di SMP N 1 Depok mengacu pada tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) implementasi dan observasi (do) dan refleksi (check/reflection); dan (d) tindak lanjut .
3. Kegiatan PKM dengan menerapkan Lesson Study di SMP N 1 Depok dapat:
1) Membantu mengimplementasikan teori-teori pembelajaran yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan karakteristik siswa yang dihadapi di sekolah praktek.
2) menciptakan rasa empati baik pada sesama tim untuk mempersiapkan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajarannya dapat diterima siswa dengan jelas yang selanjutnya dapat memberikan kebermaknaan dan hasil belajar siswa yang baik pula.
3) Mendorong terjalinnya kekompakan, kerjasama serta komunikasi yang saling menguntungkan baik antar peserta, peserta dengan guru pamong (pihak sekolah), serta peserta dengan dosen pembimbing (mutual learning dan kesejawatan).
4) menghilangkan rasa egoisme dan rasa menggurui serta menciptakan kesetaraan antara peserta dengan guru pamong maupun dosen pembimbing sesuai dengan tugas masing-masing.
5) membantu kesulitan guru paktikan dalam mengelola pembelajaran di sekolahnya.
6) meningkatkan pengetahuan dan kualitas pembelajaran matematika seperti mampu menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan.
7) meningkatkan kemampuan guru guna menuju guru yang profesional.

B. Saran
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya serta kesimpulan di atas, maka saran –saran yang diberikan sebagai berikut.
1. Sikap kolaboratif yang efektif Lesson Study sangat penting dalam kegiatan menyusun RPP. Sikap positif ini terbukti membantu menghasilkan perencanaan pembelajaran yang matang dan akan menghasilkan pembelajaran yang bermutu.
2. Sikap membuka diri dari peserta PKM/Lesson Study untuk diobservasi dan direfleksi, perlu dipetahankan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing agar proses perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran cepat berhasil.
3. Program PKM melalui Lesson Study sebaiknya dilakukan peserta pada pokok-pokok bahasan yang dianggap sulit oleh siswa. Selain akan memperbesar kemungkinan penemuan-penemuan kekurangan siswa maupun guru dalam pembelajaran, maka akan lebih cepat memacu proses perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran.
4. Lembar observasi perlu dibuat lebih terinci agar guru pengamat, guru pamong dan guru pembimbing dapat mengamati siswa lebih cermat.
5. Dengan memperhatikan bahwa kegiatan PKM dengan Lesson Study terbukti cukup efektif untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran, maka seyogyanya kegiatan ini tidak hanya untuk program sertifikasi guru jalur pendidikan saja. Namun perlu diterapkan untuk mahasiswa reguler pada mata kuliah PPL, dalam kegiatan MGMP, maupun kelompok guru serumpun di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Garfield, J. (2006). Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Robinson, Naomi. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers . (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson_proposal.doc

Richardson, J. 2006. Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council . (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.
Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP . Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E., (2006). Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project . Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

Takashi A. (2006). Implementing lesson study in North American schools and school (makalah yang dipresentasikan pada seminar “APEC International







Lencana Facebook