Tuesday, May 5, 2009

LAPORAN LESSON STUDY

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Selama ini proses pembelajaran Matematika kurang mendapat perhatian dari orang tua dan pemerintah. Proses pembelajaran Matematika yang terjadi di dalam kelas jarang ada yang tahu kecuali guru itu sendiri. Kebanyakan pengawas dari dinas pendidikan belum berfungsi sebagai supervisor pembelajaran di kelas. Ketika datang di sekolah, pengawas memeriksa kelengkapan administrasi guru berupa dokumen Perangkat Pembelajaran Matematika. Pengawas jarang masuk kelas melakukan observasi terhadap pembelajaran dan menjadi nara sumber pembelajaran bagi guru di sekolah. Begitu juga kepala sekolah. Kepala sekolah umumnya lebih mementingkan dokumen administrasi guru, seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari pada masuk kelas melakukan observasi dan supervisi terhadap pembelajaran oleh seorang guru. Akibatnya guru tidak tertantang melakukan persiapan mengajar dengan baik, memikirkan metode mengajar yang bervariasi, mempersiapkan bahan untuk pembelajaran matematika.
Umumnya pembelajaran Matematika dilakukan dalam bentuk satu arah. Guru lebih banyak ceramah dihadapan siswa sementara aktivitas siswa lebih banyak mendengarkan. Masih ada Guru yang beranggapan bahwa tugasnya hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki dengan target tersampaikannya pokok-pokok bahasan Matematika yang tertulis dalam dokumen kurikulum. Pada umumnya guru kurang memberi inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan kurang melatih siswa untuk hidup mandiri. Pelajaran yang disajikan guru kurang menantang siswa untuk berpikir. Akibatnya siswa tidak menyenangi pelajaran.
Sekolah sebagai salah satu lembaga yang diharapkan mampu menghasilkan manusia berkualitas, maka penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, berdedikasi tinggi, kreatif dan inovatif, sehingga berjalan dengan baik sesuai dengan sistem dan norma yang berlaku. Upaya memberdayakan sumberdaya manusia yang dimiliki sekolah sangat penting. Ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, akan membawa sekolah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Guru merupakan salah satu sumber daya manusia di sekolah, yang memiliki peran penting. Proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak akan dapat berjalan jika tidak ada guru. Pemberdayaan guru menjadi tugas penting yang harus dapat diwujudkan oleh kepala sekolah di sekolah, sehingga guru dapat bekerja produktif seperti mengajar dengan penuh tanggungjawab, berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin dan sebagainya.
Masyarakat telah mengakui bahwa guru memegang peranan yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan pada alenia keempat pembukaan undan- undang 1945. Untuk mengemban amanat tersebut seorang guru haruslah seorang professional karena kesehariannya berhadapan dengan tugas yang menuntut tanggung jawab moral dalam mendidik generasi muda dalam menyiapkan masa depan agar kelak dapat menjadi manusia yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, bagi masyarakat maupun bagi nusa dan bangsa.
Pengakuan bahwa guru adalah tenaga professional telah ditegaskan dalam undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 29. “ Pendidik merpakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan tugas pembelajaran , menilai hasil pembelajaran dan….”
Walaupun jabatan guru telah diakui sebagai profesi, belum berarti semua guru sudah profesional. Semua guru telah menyadari bahwa seorang guru harus professional namun masih sedikit yang sadar untuk berusaha mengembangkan diri untuk menjadi guru yang professional. Sangat sedikit guru yang mampu melihat kelemahan dirinya dalam melaksanakan profesinya. Sebagai suatu contoh masih sering dijumpai guru melimpahkan kesalahan kepada siswa bila siswa tidak berhasil mencapai prestasi belajar yang diharapkan tanpa ada usaha untuk melihat kekurangan yang ada pada diri guru itu sendiri.
Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh guru dalam mempersiapkan siswa dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, khususnya pembelajaran matematika dapat ditunjukkan melalui kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, mulai dari pemahaman terhadap landasan kurikulum, pengembangan silabus, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa, sampai pada penyusunan alat evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada permasalahan tersebut di atas.
Mencermati apa yang termuat dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 39 ayat 2 dan Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 8, berkaitan dengan tugas guru dalam pembelajaran, maka dapat diambil dua hal penting yaitu guru sebagai agen pembelajaran dan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran.
Dalam rangka menepis anggapan umum di atas dan mewujudkan kondisi ideal guru dan pembelajaran, maka melalui kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar guru diharapkan dapat mengatasi hal-hal tersebut dengan melakukan Lesson Study. Sehingga guru dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya. Dengan melaksanakan Lesson Study, wawasan guru akan berkembang dan termotivasi untuk selalu berinovasi yang selanjutnya akan menjadi guru yang profesional.
Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) dalam program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan merupakan salah satu kulminasi atau muara program yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk memantapkan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
Mengelola pembelajaran di kelas merupakan salah satu pekerjaan guru profesional yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu untuk menjalankan profesi tersebut diperlukan penguasaan sejumlah kompetensi yang mendukung, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Sebagai wujud dari penguasaan kompetensi ini, setiap tindakan guru dalam mengelola pembelajaran merupakan tindakan pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, profesi dan moral.
Kompetensi yang dimiliki oleh peserta dalam PKM diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang sistematik dan terpercaya oleh institusi yang berkompeten. Proses pemerolehan kompetensi tersebut melalui banyak interaksi bermakna, yaitu interaksi antar peserta, peserta dan guru pamong, peserta dan dosen pembimbing, peserta dan siswa, peserta dan bahan ajar. Oleh karena itu, pelaksanaan PKM harus memberikan kesempatan, agar terjadi interaksi-interaksi tersebut yang akan menumbuhkembangkan kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang guru.
PKM yang diselenggarakan oleh kebanyakan LPTK dilaksanakan individual, yaitu seorang mahasiwa/praktikan mempersiapkan rencana pembelajaran dan mengimplementasikannya secara mandiri di bawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbingnya, tanpa melibatkan mahasiswa/praktikan lain. Selain itu, yang menjadi fokus utama dalam PKM adalah praktikan, tanpa menunjukkan bagaimana siswa yang menjadi subjek pembelajaran.
Pada pelaksanaan PKM guru Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan ini didesain adanya kebersamaan guru/praktikan dalam melaksanakan PKM. Kebersamaan ini terjadi pada pembahasan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan perangkatnya, seperti media, LKS atau alat pembelajaran, observasi praktik implementasi RPP di kelas dan kegiatan refleksi yang mendiksusikan kegiatan pembelajaran yang baru saja dilaksanakan berdasarkan hasil observasi dalam rangka perbaikan RPP dan perbaikan pembelajaran berikutnya. Dalam kebersamaan ini tidak akan mengurangi kemandirian praktikan, karena praktikan tetap menyusun RPP secara mandiri, demikian pula harus memperbaikinya berdasarkan hasil diskusi/pembahasan yang telah dilakukan. Dengan adanya kegiatan observasi akan memberikan kesempatan kepada para praktikan untuk berlatih dalam mengevaluasi pembelajaran yang didalamnya tersirat adanya keterampilan mengumpulkan data, mengolah dan mengemukakan hasilnya. Kemampuan ini sangat penting bagi guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari untuk senantiasa memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajarannya yang didasarkan pada hasil observasi.

B. Tujuan
Kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar melalui Lesson Study bertujuan agar guru mampu:
1. Melakukan pemantapan kemampuan profesional guru
2. Melakukan pembeajaran yang berorientasi pada peserta didik dalam mengembangkan potensinya
3. Mendalami karakteristik dari peserta didik dalam rangka memotivasi belajarnya
4. Menemukan permasalahan yang menghambat proses pembelajaran di kelas dan mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut secara individu atau kelompok.
5. Menerapkan pembelajaran inovatif, yang bertolak dari suatu permasalahan pembelajaran.
6. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang baik dan mampu mengimplementasikannya.
7. Trampil dalam mengobservasi kegiatan pembelajaran, mengolah hasil obeservasi dan menyampaikannya secara sistematis.
8. Melakukan evaluai proses dan hasil pembelajaran
9. Mampu bekerjasama dalam mengembangkan kepribadiannya sebagai guru.
10. Mampu mengkomunikasikan proses dan hasil pembelajarannya secara lisan dan tertulis.

C. Prinsip Pelaksanaan PKM
Pelaksanaan pada Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan berprinsip adanya kerjasama sesama guru peserta, sehingga saling memberi dan menerima (sharing) pengalaman mengajar dalam menentukan masalah pembelajaran dikelas, menyusun rencana pembelajaran, implementasi rencana dan mengobservasi serta melakukan refleksi pada kegiatan-kegiatan tersebut.
Secara rinci prinsip pelaksanaan PKM dengan Lesson Study adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan PKM dengan Lesson Study bertolak dari permasalahan pembelajaran suatu bidang studi di Sekolah Menengah Pertama (khususnya di SMP Negeri 1 Depok)
2. Semua kegiatan PKM dengan Lesson Study dilaksanakan secara kolaborasi antara guru peserta dan pembimbing berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas (kesejawatan) dan mutual learning ( pembelajaran yang saling membantu).
3. Adanya kesepakatan (hasil diskusi) dalam penyusunan RPP yang merupakan pemecahan masalah atau penerapan pembelajaran inovatif dan pedoman observasinya, demikian juga pada kegiatan refleksinya.
4. Pembelajaran yang dilakukan harus berorientasi pada kegiatan siswa dalam rangka mengembangkan potensinya
5. Adanya observer dari guru peserta lain dan guru pamong dalam praktik pelaksanaan pembelajaran
6. Observasi proses pembelajaran, yaitu mengamati kesesuaian pelaksanaan pembelajaran dengan RPP dan lebih menekankan pengamatan pada aktifitas belajar siswa sebagai respon dari implementasi RPP
7. Adanya kegiatan refleksi yang dilaksanakan sesegera mungkin setelah selesai praktik pembelajaran dan observasi.
8. Diskusi dalam kegiatan refleksi didasarkan pada hasil observasi, bukan hanya berdasarkan teori/opini.
9. Adanya komitmen bersama antara anggota kelompok guru peserta untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

D. Manfaat Lesson Study
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar guru melalui Lesson Study antara lain:
1). Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)
2). Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya
3). Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.
4). Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa.
5). Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa
6). Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

BAB II
PELAKSANAAN PKM

Pelaksanaan Pemantapan Kemampuan Mengajar pada Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta menggunakan prinsip Lesson Study, yaitu adanya kerjasama sesama guru peserta, sehingga saling memberi dan menerima (sharing) pengalaman belajar dalam menentukan masalah pembelajaran di kelas melalui kegiatan perencanaan (plan), implementasi rencana pembelajaran di kelas (do), dan refleksi tentang hal-hal yang terjadi pada proses pembelajaran di kelas (see ). Hal – hal yang diuraikan dalam bab ini adalah jadwal PKM; kegiatan putaran I, II, dan III yang berisi tentang pembahasan RPP, implementasi RPP dan hasil refleksi pembelajaran.
Lesson Study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu Lesson Study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) Lesson Study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002).
Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan Lesson Study para guru dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002).
Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:
Tahap 1: Pemilihan topik Lesson Study
Tahap 2: Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
Tahap 3: Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
Tahap 4: Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
Tahap 5: Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan semua anggota kelompok Lesson Study untuk mendapatkan balikan.
Tahap 6: Guru yang ditunjuk tersebut memperbaiki kembali secara lebih detail rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas.
Tahap 7: Para guru dapat mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti : hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.
Tahap 8: Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda

A. Daftar Kelompok dan Jadwal Kegiatan PKM
Pelaksanaan PKM diawali dengan kegiatan workshop PKM yang diselenggarakan oleh pengelola program sertifikasi jalur pendidikan jurusan pendidikan matematika pada hari selasa tanggal 10 Pebruari 2009 jam 11.00 – 15.00 WIB di ruang seminar gedung D FMIPA UNY. Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh pengelola program, dosen pembimbing, guru peserta sertifikasi serta pihak sekolah dalam hal ini guru pamong. Acara kegiatan tersebut, diantaranya paparan tentang pedoman PKM, pengetahuan Lesson Study, pembentukan kelompok praktik mengajar, diskusi guru peserta dengan guru pamong dan dosen pembimbing, serta simulasi tentang lesson study. pembagian kelompok mengajar, penulis mendapat tugas PKM di SMP Negeri 1 Depok. Dalam diskusi dengan peserta sertifikasi, guru pamong dan dosen pembing diputuskan membuat daftar kelompok (kepengurusan kecil) dan jadwal kegiatan PKM. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh daftar kelompok dan jadwal rencana kegiatan PKM (terlampir).
Sedang selaku guru Pamong adalah Bapak Suhardi, S.Pd dan Ibu Dyah Wardani, serta selaku dosen pembimbing adalah Ibu Atmini Dhoruri, MS.
Dari penyusunan jadwal tersebut, dilanjutkan kunjungan ke sekolah praktik yaitu SMP Negeri 1 Depok, pada hari Selasa tanggal 17 Pebruari 2009. Pertemuan di SMP Negeri 1 Depok tersebut, dihadiri Wakil kepala sekolah selaku wakil dari Kepala Sekolah (sehubungan dengan adanya tugas dinas luar yang harus dilaksanakan Kepala Sekolah), dosen pembimbing, guru pamong, serta guru praktikan. Dalam pertemuan tersebut dapat diketahui bahwa SMP Negeri 1 Depok merupakan SSN yang yang memiliki segudang prestasi baik dalam bidang akademis maupun non akademis. Sehingga siswa-siswanya selain diajarkan ilmu pengetahuan (teori) juga dibekali pengembangan bakat dan minat serta pengembangan diri. Kunjungan ke sekolah ini diakhiri dengan silaturahmi dengan segenap guru dan TU SMP N 1 Depok serta kunjungan ke ruang-ruang teori, ruang multimedia, laboratorium, perpustakaan, dan lingkungan sekolah lainnya.

B. Kegiatan Setiap Putaran
Kegiatan setiap putaran dalam PKM, menyesuaikan tahapan Lesson Study yang digunakan. Lesson Study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:
1. Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap plan.
2. Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap do.
3. Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer. Kegiatan ini disebut tahap see.
Berikut adalah penjelasan kegiatan setiap tahapnya:
a) Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok Lesson Study)
tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru kelompok SMP N 1 Depok dan guru Pamong serta Dosen Pembimbing dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, guru Pamong dan Dosen Pembimbing mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh para guru Praktikan, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan Life Skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.
Hal penting yang didiskusikan pula dalam kegiatan PKM berbentuk Lesson Study ini adalah penyusunan/penggunaan lembar observasi (Tim UNY sudah membuatkan), terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas :
i. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
ii. Lembar Kerja Siswa (LKS)
iii. Media atau alat peraga pembelajaran
iv. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.
v. Lembar observasi pembelajaran.
Penyusunan perangkat pembelajaran ini dilakukan oleh seorang guru dalam kelompok mengacu pada aspek-aspek pembelajaran ditetapkan dalam buku Panduan Pelaksanaan PKM. Hasil penyusunan perangkat pembelajaran selanjutnya dikonsultasikan dengan guru/peserta lainnya dalam kelompok SMP N 1 Depok, guru Pamong dan Dosen Pembimbing untuk proses penyempurnaannya.
b) Implementasi dan Observasi
Pada tahap ini seorang Praktikan yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, menurut jadwal pelaksanaan PKM individu melakukan implementasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun tersebut, di kelas. Guru Pamong, Dosen Pembimbing dan guru/peserta lainnya melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu dilakukan rekaman foto dan video (short shooting) yang meng-close-up kejadian-kejadian khusus (pada guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini digunakan sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi dari implementasi. Di samping itu akan digunakan sebagai bahan laporan hasil pelaksanaan PKM.
c. Refleksi
Selesai praktik pembelajaran, kemudian dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru/praktikan yang tampil dan para observer (guru/peserta lainnya, guru Pamong dan Dosen Pembimbing) mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin Ketua Kelompok SMP N 1 Depok dengan moderator secara bergantian dari anggota-anggota kelompok yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama praktikan yang melakukan implementasi rencana pembelajaran menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi.
Selanjutnya observer (guru lain, guru pamong dan dosen pembimbing) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajara. Selanjutnya, guru/praktikan yang melakukan implementasi tersebut memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hasil tahap refleksi ini selanjutnya digunakan untuk mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

1. Kegiatan Pada Putaran I
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Kegiatan penyusunan dan pembahasan RPP ini masuk pada kegiatan planning. Dalam tahapan ini kami menyusun RPP dan menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana RPP tersebut akan dilakukan.
Materi yang akan dibahas pada putaran I ini adalah Pengertian SPLDV, Perbedaan PLDV dan SPLDV, dan Himpunan Penyelesaian. plan dalam Lesson Study ini meliputi kegiatan:
1). Penyusunan rencana pembelajaran yang bernuansa kontekstual dengan model yang digunakan adalah Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. 2). Menyusun Lembar Kerja Siswa dengan ciri khas Direct Instruction dan Cooperative Learning.
3). Menyiapkan instrument penilaian meliputi instrument penilaian kemampuan kognitif (berupa tes UH dan pengukuran kinerja kognitif), instrument penilaian kemampuan afektif dalam kegiatan kelompok serta instrument penilaian kinerja psikomotorik.
4). Menyiapkan lembar observasi kegiatan pembelajaran.
Adapun sintak model pembelajaran kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning yang digunakan dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:
FASE-FASE TINGKAH LAKU
Fase 1
Menyampaikan tujuan, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa
Fase 2
Menyajikan informasi dan mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut, memotivasi siswa untuk belajar, materi prasyarat dan mempersiapkan siswa untuk belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan keterampilan tahap demi tahap
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok dan membimbing siswa dalam pelatihan
Fase 4
Membimbing siswa dalam kelompok bekerja dan belajar dan mengecek pemahaman siswa serta memberikan umpan balik
Fase 5
Memberikan latihan dan penerapan konsep serta melaksanakan evaluasi
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mengatur cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien kemudian memberikan latihan terbimbing
Guru membimbing siswa dalam kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka dan mengecek kemampuan siswa serta memberikan umpan balik
Guru memberikan latihan dan penerapan konsep serta mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
b. Implementasi RPP
Kegiatan implementasi RPP (do) meliputi tahapan praktek pembelajaran (acting) dan pengamatan (observing). Acting; pada tahap ini rancangan strategi dan scenario penerapan pembelajaran yang diterapkan. Sedang observing; tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan. Jadi keduanya berjalan pada waktu yang sama. Instumen yang digunakan sabagai alat pengamatan dapat lembar observasi.
Pembelajaran pada putaran I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 Februari 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu Sintaks Model Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. Pada fase pertama (ada pada kegiatan pendahuluan), kami menyampaikan tujuan belajar, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Kemudian dalam kegiatan inti, kami melaksanakan fase-fase lainnya seperti:
(i) mendemonstrasikan pengetahuan dengan teknik bertanya kemudian menjelaskan prosedur menggunakan LKS untuk menyelesaikan tugas belajar;
(ii) menyiapkan siswa untuk duduk sesuai dengan kelompoknya;
(iii) membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengcek pemahaman siswa.
Kegiatan siswa dalam fase ini antara lain:
- Siswa diberi tugas sesuai LKS 1-3 yang membimbing siswa menemukan pengetahuan melalui tahapan-tahapan yang sistematis.
- Masing-masing kelompok melaksanakan tugas belajar di tempat duduk yang telah disiapkan, dan
- Kegiatan mempersentasikan jawaban.
Sedang kegiatan observasi dilaksanakan oleh guru Pamong, Dosen Pembimbing dan guru-guru kelompok SMP N 1 Depok yang sedang tidak menjadi Praktikan. Observasi lebih difokuskan pada tiga aspek, yakni: (1) penerapan model pembelajaran, (2) inovasi guru dalam pembelajaran (pengembangan dan penyampaian materi, pengelolaan kelas dan (3) pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Adapun hasil observasi terlampir.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Refleksi dilakukan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dievaluasi guna menyempurnakan rencana tindakan berikutnya. Hasil diskusi refleksi pada putaran I terlampir dalam laporan ini.
Adapun hasil refleksi pembelajaran pada putaran I yang perlu dipertimbangkan dan dijadikan acuan pada rencana tindakan berikutnya adalah bahwa hasil belajar belum optimal disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Siswa belum terbiasa berfikir sistematis. Sehingga ada beberapa siswa yang kurang memahami maksud soal dan langkah-langkah sistematis dalam pembelajaran yang dibimbing oleh LKS yang bercirikan model kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning. Akibatnya banyak siswa yang masih kesulitan menyelesaikan masalah/soal matematika. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan usaha guru menjelaskan kepada siswa atau kelompok diskusi yang masih memerlukan penjelasan terhadap tugas yang harus dikerjakan.
2. Siswa masih merasa malu dan ragu untuk bertanya, menjawab maupun berpendapat baik yang ditujukan kepada teman kelompok maupun gurunya. Keadaan ini membutuhkan motivasi dan kiat dari Praktikan untuk memunculkan keberanian pada siswa.
3. Siswa belum terbiasa melakukan persentasi hasil diskusi kelompok. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan memantapkan pembelajaran pada putaran/pertemuan berikutnya.
4. Siswa belum memahami benar struktur pembelajaran yang dikehendaki. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan menyampaikan sejelas-jelasnya tentang kegiatan –kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

2. Kegiatan Putaran II
Pada bagian ini, kami akan menyampaikan deskripsi kegiatan pembelajaran pada putaran II dari perencanaan (plan), implementasi dan observasi (do: action and observing).
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Dalam tahapan ini dengan memperhatikan hasil identifikasi masalah pada kelas praktek (IX C) kami menyusun dan membahas Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran dari sisi pemilihan materi, penggunaan model dan metodenya, Lembar Kerja Siswa, alat evaluasinya dan lembar observasinya.
1) Materi yang akan dibahas pada putaran II ini adalah Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dan Menyelesaikan Model Matematika dengan Menggunakan SPLDV. Materi ini melanjutkan materi pada putaran sebelumnya yang masih dalam satu Standar Kompetensi.
2) Rencana pembelajaran yang disusun bernuansa kontekstual dengan menggunakan model yang sama pada kegiatan putaran I yakni Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning dengan sintak pembelajaran yang sama pula.
3) Menyusun Lembar Kerja Siswa dengan ciri khas Direct Instruction dan Cooperative Learning.
4) Alat evaluasi yang mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam belajar menggunakan tes tertulis berupa uraian.
5) Lembar observasi kegiatan pembelajaran yang disusun loeh TIM UNY tetap digunakan. Karena dipandang cukup valid dan mengukur semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
b. Implementasi RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran matematika yang kedua dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 5 Maret 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu sintak model kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning yang terdiri dari beberapa fase. Pada fase pertama, peneliti menyampaikan tujuan belajar, memotivasi siswa dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Caranya antara lain: (i) Mengatakan kepada siswa bahwa pada pertemuan ini selain siswa diharapkan dapat menentukan himpunan penyelesaian dengan tiga cara, juga diharapkan dapat bekerja sama dan saling menghormati hasil kerja teman dalam menyampaikan pendapat maupun mempresentasikan hasil kerjanya, (ii) Menanyakan kepada siswa apakah sudah mempersiapkan peralatan dan perlengkapan belajarnya, dan (iii) Dengan Tanya jawab siswa diminta menjelaskan pengertian SPLDV (dimaksudkan agar siswa yang sebelumnya tidak belajar minimal akan menyiapkan dan membuka buku pelajaran). Pada fase kedua, peneliti meyajikan informasi dan mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan teknik bertanya, kemudian menjelaskan prosedur penggunaan LKS untuk menyelesaikan tugas belajar. Pada fase ke tiga, praktikan mengorganisasikan siswa ked ala kelompok-kelompok dan membimbing siswa dalam pelatihan. Caranya siswa disiapkan duduk sesuai dengan kelompoknya. Fase yang keempat, praktikan membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengecek pemahaman siswa serta memberikan umpan balik. Kegiatan siswa pada fase ini antara lain: (i) siswa diberi tugas sesuai LKS 4, LKS 5 dan LKS 6 yang membimbing siswa menemukan pengetahuan (jawaban) melalui tahapan-tahapan yang sistematis, (ii) Masing-masing kelompok melaksanakan tugas belajar di tempat duduk yang telah disiapkan, dan (iii) Untuk tugas belajar yang bersifat individu tiap-tiap siswa diberi kesempatan untuk maju mempresentasikan hasil. Sedang siswa lain menanggapi. Demikian pula untuk tugas kelompok, ada tiap-tiap delegasi kelompok yang mempresentasikan hasil diskusi. Sedang kelompok lain menanggapi.
Kegiatan diskusi di atas dimaksudkan agar siswa dapat mengecek pemahamannya sendiri dan sekaligus sebagai umpan balik terhadap kegiatan belajar yang dialaminya. Pada fase keempat ini guru juga membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
Fase kelima. Praktikan memberikan latihan dan penerapan konsep serta melaksanakan evaluasi. Siswa diminta mengerjakan tes tertulis untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Kemudian diikuti fase keenam dengan memberikan penghargaan (pujian) atas prestasi belajar kelompok.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Hasil refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan pada putaran II adalah bahwa perkembangan pembelajaran pada putaran II mengalami peningkatan yang cukup berarti. Model pembelajaran kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning dapat berjalan cukup baik. Mungkin selain karena materi lanjutan ini masih dalam satu standar kompetensi juga karena model ini sudah dilaksanakan pada putaran sebelumnya. Kontribusi siswa dalam kerja kelompok semakin optimal. Namun demikian hasil diskusi belum sesuai yang diharapkan. Karena soal yang dibuat berbobot Olympiade Nasional. Seharusnya cukup soal-soal standar yang biasa dipakai dalam ulangan akhir semester maupun ujian nasional.

3. Kegiatan Putaran III
a. Penyusunan dan Pembahasan RPP
Dalam tahapan ini dengan memperhatikan hasil identifikasi masalah pada kelas praktek (IX C) kami menyusun dan membahas Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran dari sisi pemilihan materi, penggunaan model dan metodenya, Lembar Kerja Siswa, alat evaluasinya dan lembar observasinya.
1) Materi yang akan dibahas pada putaran I ini adalah Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dan Menyelesaikan Model Matematika dengan Menggunakan SPLDV. Materi ini melanjutkan materi pada putaran sebelumnya yang masih dalam satu Standar Kompetensi.
2) Rencana pembelajaran yang disusun bernuansa kontekstual dengan model yang digunakan adalah Kombinasi Direct Instruction dan Cooperative Learning.
3) Menyusun soal kuis lengkap dengan kunci jawabannya.
4) Alat evaluasi yang mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam belajar menggunakan tes tertulis berupa uraian.
5) Lembar observasi kegiatan pembelajaran yang disusun loeh TIM UNY tetap digunakan. Karena dipandang cukup valid dan mengukur semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
b. Implementasi RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran matematika yang ketiga dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 12 Maret 2009 jam ke-5 dan ke-6. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu sintak model Pembelajaran Interaktif Learning – Direct Instruction yang memadukan teknik janya jawab dan diskusi kelompok serta pemberian tugas.
Interaktif Learning dimaksudkan bahwa pembelajaran yang berlangsung menggunakan media pembelajaran note book, LCD dan software berupa power point yang memuat proses penjelasan materi disertai contoh penyelesaian dan soal-soal latihan yang dilakukan secara interaktif, yakni siswa diberi kesempatan terlebih dahulu untuk menjawab berdasarkan perolehan pengetahuan dari penjelasan materi untuk selanjutnya di cross-ceck dengan jawaban yang tersedia dalam software tersebut. Sedang Direct Instruction dimaksudkan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara langsung melalui penjelasan materi dan latihan soal secara bertahap dan sistematis pula serta mengacu pada indikator keberhasilan pembelajaran. Dalam putaran ketiga ini materi yang dibahas adalah Melukis Lingkaran Dalam dan Lingkaran Luar Suatu Segitiga.
Pelaksanaan Pembelajaran pada putaran ketiga ini meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan siswa diberi apersepsi dan motivasi. Apersepsi dilaksanakan dengan tanya jawab. Dimana guru mengingatkan kembali tentang melukis garis yang saling tegak lurus, garis bagi dan sumbu sebuah garis. Agar siswa memiliki semangat belajar yang tinggi, maka siswa diminta melihat Motivation-CD agar siswa lebih serius dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan.
Pada kegiatan inti, siswa diminta untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4 anggota. Selanjutnya siswa diminta untuk belajar mengikuti tayangan CD interaktif pembelajaran yang telah dijalankan dan mencatat hal-hal yang sekiranya penting. Setelah penayangan CD tentang melukis lingkaran dalam segitiga, guru menanyakan pada siswa apakah sudah jelas dengan tayangan tersebut, jika ada yang belum diulangi kembali atau meminta salah satu siswa untuk menjalankannya lagi. Setelah selesai penayangan, siswa secara berkelompok diminta mendiskusikan soal tentang melukis lingkaran dalam segitiga yang sudah tersedia dalam Lembar Kerja Siswa yang telah dibagikan. Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan pengarahan dan bantuan secukupnya pada kelompok yang mengalami kesulitan. Selanjutnya beberapa siswa diminta mempresentasikan hasil diskusinya dan ditanggapi oleh siswa yang lain. Guru membimbing siswa menuju jawaban yang benar. Setelah selesai guru meminta siswa mempehatikan materi berikutnya tentang Materi Melukis lingkaran Luar segitiga yang langkahnya sama ketika menjelaskan materi Melukis Lingkaran dalam Segitiga. Sebagai umpan balik, guru mengadakan kuis melalui Instructional – CD.
Dan pada akhir pembelajaran, Guru membimbing siswa untuk merangkum materi pelajaran yg telah dipelajari dan meminta siswa menuliskan hal-hal yang berkesan baginya selama mempelajari materi ini. Siswa diminta juga untuk mengerjakan latihan di rumah.
c. Hasil Refleksi Pembelajaran
Hasil refleksi pembelajaran yang perlu dipertimbangkan dan dijadikan acuan pada rencana pelaksanaan pembelajaran berikutnya antara lain:
1. Bahwa model pembelajaran interaktif dengan memanfaatkan multimedia mampu melibatkan siswa secara aktif baik fisik, mental maupun pikiran. Sehingga motivasi dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
2. Dalam dinamika kelompok, semakin fokus materinya dan jelas tugasnya, maka siswa akan semakin termotivasi untuk menguasai materi.
3. Adanya pemberian motivasi sebelumnya, ternyata berpengaruh pada makin mantapnya persentasi hasil kerja kelompok. Siswa sudah berani berbicara didepan kelas untuk menjelaskan bagaimana menentukan jari-jari lingkaran dalam dan luar segitiga.
4. Diperlukan kontinuitas pembelajaran interaktif yang menyenangkan pada pertemuan-pertemuan yang lain di sekolah masing-masing agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara maksimal.


BAB III
HAMBATAN DAN PEMECAHAN
A. Hambatan
Kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yaitu tiga putaran dengan menggunakan prinsip Lesson Study yang meliputi kegiatan perencanaan pelaksanaan pembelajaran (plan), implementasi dan observasi pembelajaran (do) dan refleksi (see). Dalam pelaksanaan kegiatan PKM tersebut secara keseluruhan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan kami menemukan makna kegiatan PKM yang bernuansa Lesson Study, yaitu menciptakan komunitas guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Ada tukar pikiran (berdiskusi) tentang hambatan maupun keberhasilan yang selama ini dihadapi guru dalam melakukan pembelajaran di sekolahnya masing-masing serta mencari solusi terhadap pelaksanaan pembelajaran di sekolah tempat praktek yaitu di SMP Negeri 1 Depok. Mulai mendesain rencana pembelajaran matematika sehingga menghasilkan perangkat pembelajaran yang baik, memecahkan persoalan dalam pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan tiap putaran, terutama menemukan cara agar siswa dapat senang belajar matematika, menentukan media maupun alat peraga serta lembar kegiatan siswa yang cocok digunakan dalam implementasi suatu pembelajaran.
Walaupun demikian, ada beberapa kendala yang hadapi selama melaksanakan PKM di SMP Negeri 1 Depok, antara lain:
1. Dalam kelompok masih ada perbedaan presepsi dalam pelaksanaan PKM melalui Lesson Study
2. Pengertian Lesson Study yang dipahami oleh kelompok dan penulis sendiri masih minim ( baru melakukannya)
3. Kondisi siswa yang menjadi tempat pelaksanaan implementasi RPP adalah kelas 9, dimana semua materi sudah diberikan, sehingga sebagian siswa merasa bosan dan tak termotivasi karena materi yang disampaikan oleh para guru model semuanya sudah mereka dapatkan
4. Dalam melakukan observasi rumusan masalah kelompok kami belum optimal melakukannya
5. Ada perasaan sungkan pada masing-masing anggota kelompok manakala kita memerlukan media pembelajaran seperti Laptop, LCD, OHP dimana pada kelompok kami kelengkapan tersebut belum dimiliki oleh masing-masing anggota/individu sehingga ada perasaan takut membebani sekolah tempat praktik.
6. Ada perasaan tak bebas mengajar pada kelompok kami. Karena yang dihadapi adalah siswa-siswa sekolah lain yang karakteristik dan sifat-sifat siswa tersebut belum sepenuhnya dipahami sehingga dalam pelaksanaan PBM tidak optimal.

B. Pemecahan
Dengan memperhatikan hambatan-hambatan yang terjadi serta berbagai faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan Lesson Study, maka usaha-usaha yang dapat dilaksanakan dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Dalam kelompok dan individu masing-masing mencoba mencari buku referensi utamanya tentang pengertian Lesson Study dan tahap-tahap Lesson Study serta minta petunjuk dari dosen pembimbing dan guru pamong tentang pelaksanaan Lesson Study. Dengan demikian kami dapat menyamakan persepsi tentang Lesson Study yang pada akhirnya munculah kebersamaan dalam kelompok.
2. Agar pelaksanaan Lesson Study dapat berjalan dengan baik, kelompok kami SMP N 1 Depok selalu bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin dengan tindakan dan masukan serta motivasi dari guru pamong serta dosen pembimbing
3. Dengan percaya diri, bahwa pada dasarnya siswa sebenarnya sama yaitu mereka haus dengan hal-hal yang baru, maka kelompok kami mencoba memberikan materi yang dianggap penting bagi siswa berdasarkan identifikasi dengan menggunakan teknik, strategi dan pendekatan pembelajaran yang inovatif disertai dengan media dan alat pembelajaran yang inovatif, karena dengan hal tersebut mereka akan termotivasi bahwa matematika itu tidak monoton, bisa mengikuti perkembangan jaman.
4. Berdialog dengan guru pamong dan dosen pembimbing serta teman-teman praktikan lainnya dalam satu kelompok tentang upaya mandiri untuk dapat menampilkan hal yang inovatif, sehingga dapat membelajakan siswa dengan tepat, berkesan, bermakna, dan menyenangkan.
5. Meningkatkan interospeksi diri melalui diskusi dengan guru pamong dan dosen pembimbing dalam kegiatan refleksi yang didasarkan pada hasil observasi dan bukan berdasarkan teori/opini. Disertai dengan adanya komitmen bersama antara anggota kelompok guru peserta untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
6. Meningkatkan keterampilan dalam mengobservasi kegiatan pembelajaran, mengolah hasil observasi dan menyampaikannya secara sistematis, melakukan evaluasi proses dan hasil pembelajaran, bekerjasama dalam mengembangkan kepribadiannya sebagai guru, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi selama proses pembelajaan dan ketika menyampaikan hasil pembelajarannya secara lisan maupun tertulis.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan, hambatan serta pemecahannya kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar dengan menerapkan Lesson Study di SMP Negeri 1 Depok, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Tujuannya adalah untuk (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Bercirikan adanya (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung. Dan bermanfaat agar (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
2. Lesson Study yang dilaksanakan berbasis sekolah tepatnya di SMP N 1 Depok mengacu pada tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) implementasi dan observasi (do) dan refleksi (check/reflection); dan (d) tindak lanjut .
3. Kegiatan PKM dengan menerapkan Lesson Study di SMP N 1 Depok dapat:
1) Membantu mengimplementasikan teori-teori pembelajaran yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan karakteristik siswa yang dihadapi di sekolah praktek.
2) menciptakan rasa empati baik pada sesama tim untuk mempersiapkan pembelajaran agar pelaksanaan pembelajarannya dapat diterima siswa dengan jelas yang selanjutnya dapat memberikan kebermaknaan dan hasil belajar siswa yang baik pula.
3) Mendorong terjalinnya kekompakan, kerjasama serta komunikasi yang saling menguntungkan baik antar peserta, peserta dengan guru pamong (pihak sekolah), serta peserta dengan dosen pembimbing (mutual learning dan kesejawatan).
4) menghilangkan rasa egoisme dan rasa menggurui serta menciptakan kesetaraan antara peserta dengan guru pamong maupun dosen pembimbing sesuai dengan tugas masing-masing.
5) membantu kesulitan guru paktikan dalam mengelola pembelajaran di sekolahnya.
6) meningkatkan pengetahuan dan kualitas pembelajaran matematika seperti mampu menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan.
7) meningkatkan kemampuan guru guna menuju guru yang profesional.

B. Saran
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya serta kesimpulan di atas, maka saran –saran yang diberikan sebagai berikut.
1. Sikap kolaboratif yang efektif Lesson Study sangat penting dalam kegiatan menyusun RPP. Sikap positif ini terbukti membantu menghasilkan perencanaan pembelajaran yang matang dan akan menghasilkan pembelajaran yang bermutu.
2. Sikap membuka diri dari peserta PKM/Lesson Study untuk diobservasi dan direfleksi, perlu dipetahankan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing agar proses perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran cepat berhasil.
3. Program PKM melalui Lesson Study sebaiknya dilakukan peserta pada pokok-pokok bahasan yang dianggap sulit oleh siswa. Selain akan memperbesar kemungkinan penemuan-penemuan kekurangan siswa maupun guru dalam pembelajaran, maka akan lebih cepat memacu proses perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran.
4. Lembar observasi perlu dibuat lebih terinci agar guru pengamat, guru pamong dan guru pembimbing dapat mengamati siswa lebih cermat.
5. Dengan memperhatikan bahwa kegiatan PKM dengan Lesson Study terbukti cukup efektif untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran, maka seyogyanya kegiatan ini tidak hanya untuk program sertifikasi guru jalur pendidikan saja. Namun perlu diterapkan untuk mahasiswa reguler pada mata kuliah PPL, dalam kegiatan MGMP, maupun kelompok guru serumpun di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Garfield, J. (2006). Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Robinson, Naomi. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers . (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson_proposal.doc

Richardson, J. 2006. Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction. Nasional Staff Development Council . (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.
Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP . Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E., (2006). Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project . Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

Takashi A. (2006). Implementing lesson study in North American schools and school (makalah yang dipresentasikan pada seminar “APEC International







Saturday, February 28, 2009

WAWASAN WIYATA MANDALA DI AWAL LESSON STUDY

Inilah kegiatan wawasan wiyata mandala di SMP N 1 Depok yang mengawali kegiatan Lesson Study bagi para calon guru sertifikasi jalur pendidikan. Bersama Bapak Suhardi dan Ibu Dyah Wardani, tim kami yang terdiri dari saya sendiri, bapak Agus, Achmad, Imam dan Iwan melakukan kunjungan ke semua ruang dan lingkungan di sekolah berstandar nasional tersebut. Mulai dari ruang kelas, ruang lab komputer, ruang ICT pembelajaran, sampai ke ruang seni dimana siswa siswi belajar memainkan musik budaya jawa tengah (seni kerawitan). Sekolah ini di bawah pimpinan Bapak HeruSumarsono, S.Pd. sangat pantas mendapatkan penghargaan. Selain banyak even-even lomba yang dijuarainya, ternyata memang guru-gurunya sangat profesional. Yah, ini memang sangat beralasan. Hampir tiada hari tanpa kegiatan tambahan seperti kegiatan ekstrakulikuler dan jam tambahan untuk persiapan ujian nasional. Di sekolah ini rupanya bakat dan minat siswa sangat diperhatikan. Termasuk di bidang akademis, siswa yang dianggap dalam posisi mengkhawatirkan dalam Ujian Nasional juga mendapatkan pembinaan ekstra sebagai tanggung jawab penuh terhadap orang tua dan masyarakat.

Saturday, February 21, 2009

PREDIKSI SOAL UJIAN SD

Saya mengucapkan terima kasih kepada Wakil Walikota Batam yang telah menggagas dan membangun Forum Ria Saptarika. Diantaranya telah menyediakan soal-soal UN yang banyak dibutuhkan para murid di SD. Melalui blog saya, soal-soal ini akan saya publikasikan secara terbatas.
Latihan soal-soal UN/UASBN SD/MI & Prediksi soal 2008
Posted on April 29th, 2008 by riasaptarika
Silahkan Download:
Soal-soal UN 2006/2007 & Pembahasan (Math)
Soal-soal UN 2005/2006 & Pembahasan (Math)
Prediksi Soal-soal UN/UASBN 2008 & Pembahasan
Soal-soal Lengkap (Sains, Math, IPS & BIN) UN 2005/2006 & Pembahasan Perhatian ukuran file ini cukup besar yaitu 25 Mbyte.
Prediksi Soal Bahasa Indonesia UN/UASBN 2008 & Pembahasan
Prediksi Soal Sains UN/UASBN 2008 & Pembahasan

Tuesday, February 17, 2009

SERBA-SERBI MENJELANG UJIAN NASIONAL

Informasi Ujian Nasional 2009 Terlengkap

Posted on February 11, 2009 by yorasaki

Departemen Pendidikan Nasional bersama BSNP, dan Depag telah melakukan kesepakatan bersama mengenai jadwal pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun akademik 2008/2009 sebagai berikut:
- UN SMA/MA : 20 — 24 April 2009
- UN SMP/Mts : 27 — 30 April 2009
- UN SD/MI : 11 — 13 Mei 2009
- SMK/SMALB : 20 — 22 April 2009


Standar Nilai UN 2009 Naik

Posted on February 3, 2009 by yorasaki

Pemerintah kembali menaikkan standar nilai rata-rata kelulusan peserta Ujian Nasional 2009. Tahun 2009 ini, siswa harus memiliki nilai rata-rata 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN.

Bocoran Soal UN SMP 2008 (baca: Prediksi Kisi-Kisi Soal UN SMP 2008)
Tulis Komentar Anda
Silakan download file kisi-kisi soal UN SMP 2008 di sini. File ini diperoleh setelah bertanya sana-sini, baca sana-sini, googling sana-sini bahkan ikut workshop sana-sini, akhirnya ketemu juga perkiraan (kisi-kisi) soal UN SMP tahun 2008.Tapi ingat, ini hanya perkiraan jadi jangan terlalu bernafsu gitu dong membaca judul ini. Jadi belajar dengan giat tetap yang utama, tapi dengan adanya kisi-kisi ini maka belajar dapat lebih terarah dan efektif. Baca pula berbagai dokumen standar UN seperti SKL, POS, Jadwal dan lain-lain untuk SD, SMP, MTs, SMA, MAN, dan SMK pada posting selengkapnya di bawah ini.Prosedur Operasi Standar Ujian Sekolah/Madrasah 2007-2008
Kata Pengantar
SK POS US Febuari 2008
POS US SD 2008
POS US SMP 2008
POS US SMA 2008
POS US SMK 2008
POS US SDLB 2008
POS US SMPLB 2008
POS US SMALB 2008 Panduan Materi UN SD 2008
Indonesia.pdf
IPA.pdf
Matematika.pdf Panduan Materi UN SMP/MTs 2008
Indonesia.pdf
Inggris.pdf
IPA.pdf
Matematika.pdf Panduan Materi UN SMA/MA 2008
Antropologi.pdf
Arab.pdf
Biologi_IPA.pdf
Ekonomi.pdf
Fisika_IPA.pdf
Geografi.pdf
Ilmu Hadis.pdf
Ilmu Kalam.pdf
IlmuTafsir.pdf
Indonesia_Bahasa.pdf
Indonesia_IPA-IPS.pdf
Inggris_IPA-IPS-Bahasa.pdf
Jepang.pdf
Jerman.pdf
Kimia_IPA.pdf
Mandarin.pdf
Matematika_Bahasa.pdf
Matematika_IPA.pdf
Matematika_IPS.pdf
Perancis.pdf
SastraIndonesia.pdf
Sosiologi.pdf Panduan Materi UN SMK 2008
Indonesia.pdf
Inggris.pdf
MatematikaAkunPenjualan.pdf
MatematikaSeniWisataRmhtgPeksosAdmin.pdf
MatematikaTekKesTani.pdf



Saturday, January 31, 2009

MENJADI GURU MATEMATIKA YANG IDEAL

A. Pendahuluan
Pendidik merupakan jabatan yang amat strategis dalam menunjang proses dan hasil kinerja pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pendidik merupakan gerbang awal sekaligus sebagai representasi kondisi dan kinerja pendidikan. Dalam hubungan ini, penampilan seorang pendidik harus terwujud sedemikian rupa secara efektif sehingga dapat menunjang dinamika dan keefektifan pendidikan. Kinerja penampilan pendidik didukung sejumlah kompetensi tertentu yang berlandaskan kualitas kepribadian yang harus dapat diwujudkan secara nyata.

Menurut M Surya (2003), kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi dan kondisi. Dengan demikian sifat utama seorang pendidik adalah kemampuannya dalam mewujudkan penampilan kualitas kepribadian dalam interaksi dengan lingkungan pendidikan agar kebutuhan dan tujuan dapat tercapai secara efektif. Dengan kata lain, seorang pendidik hendaknya memiliki kompetensi kinerja yang mantap. Kompetensi tersebut akan tercermin dalam penampilan yang bersumber pada komponen penampilan, komponen penguasaan subyek, kualitas professional, penguasaan proses, dan kemampuan penyesuaian diri, serta berlandaskan kualitas kepribadiannya.
1. Komponen penampilan, yaitu unsur kemampuan mewujudkan berbagai perilaku kinerja
yang nampak sesuai dengan bidang jabatan dan tugasnya sebagai pendidik.
2. Komponen Subyek, yaitu unsure kemampuan penguasaan bahan/substansi pengetahuan yang
relevan dengan bidang jabatan dan tugas pendidik sebagai prasyarat bagi penampilan kinerjanya secara
tepat dan efektif,
3. Komponen professional, yaitu unsure kemampuan penguasaan substansi pengetahuan dan keterampilan
teknis keahlian khusus dalam bidang jabatan dan tugas pendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan
atau latihan secara khusus,
4. Komponen Proses, yaitu unsure kemampuan penguasaan proses-proses mental intelektual yang mencakup
proses berfikir (logis, kritis, rasional, kreatif) dalam pemecahan masalah, pembuatan keputusan dan
sebagainya sebagai prasyarat bagi terwujudnya penampilan kinerja pendidik,
5. Komponen Penyesuaian diri, yaitu unsure kemampuan penyerasian dan penyesuaian diri terhadap
tuntutan lingkungan berdasarkan karakteristik pribadi untuk mencapai keefektifan kinerja kependidikan
6. Komponen Kepribadian, yaitu kualitas keseluruhan perilaku sebagai prasyarat fundamental bagi
terwujudnya penampilan kinerja secara keseluruhan.

B. Kepribadian Efektif
Kepribadian efektif akan terwujud melalui berfungsinya keseluruhan potensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Potensi manusiawi itu berbentuk daya nalar sebagai pilar penyangga dengan empat jenjang anak anak tangga yang berupa: (1) Coping, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan dalam menghadapai dunia sehari-hari dengan baik, (2) Knowing, yaitu memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari, (3) Believing, yaitu keyakinan yang melandasi berbagai tindakan, dan (4) Being, yaitu perwujudan diri yang otentik dan bermakna (William D.Hitt dalam Surya, 1997).
Berfungsinya seluruh potensi manusiawi untuk mencapai kepribadian efektif didukung oleh lima unsur yang harus terwujud secara utuh yaitu:
1. Penalaran
Penalaran merupakan kemampuan untuk mengfungsikan potensi akal pikiran secara efektif dengan bentuk bertanya, mencari, menguji, dan menjawab berbagai fenomena sehingga menjadi sesuatu yang bermakna. Potensi penalaran ini didukung oleh lima kecakapan yang mencakup: (a) ketrampilan konseptual, yaitu kecakapan yang berkenaan dengan aabstraksi dan generalisasi dalam taraf yang lebih tinggi, (b) berfikir logis, yaitu kecakapan untuk memecahkan masalah dengan menerapkan pendekatan system, (c) berfikir kreatif, yaitu kecakan untuk membawa gagasan imajinatif menjadi suatu kenyataan, (d) berfikir holistic, yaitu kecakapan untuk menangkap keseluruhan situasi, dan (d) komunikasi, yaitu kecakapan untuk melakukan dialog sejati dengan pihak lain untuk menemukan kebenaran bersama.
2. Sumber-sumber daya
Dalam melaksanakan tugas kependidikan secara efektif, sekurang-kurangnya harus memiliki tiga prinsip sumber daya atau kekuatan yaitu: (a) Staf, yaitu pihak-pihak lain yang menjadi mitra kerja yang siap, mau dan mampu, (b) Informasi, yaitu seperangkat pengetahuan yang dimiliki untuk menunjang jalannya tugas-tugas, (c) Jaringan kerja, yaitu kontak-kontak pribadi untuk berbagai gagasan, informasi, dan sumber-sumber.
3. Pengetahuan
Penguasaan pengetahuan merupakan pilar penunjang bagi perwujudan kepribadian pendidik yang efektif. Untuk perwujudan kepribadian efektif seorang pendidik, pengetahuan yang harus dikuasai secara utuh mencakup: (a) Pengetahuan tentang diri sendiri, yaitu sejauh mana mengenal, memahami, dan menerima berbagai aspek tentang dirinya secara utuh dan benar, (b) Pengetahuan tentang tugas atau pekerjaan, yaitu pemahaman mengenai berbagai tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan jabatan atau pekerjaannya, (c) Pengetahuan tentang organisasi, yaitu pemahaman mengenaiberbagai aspek organisasi tempat bertugas, (d) Pengetahuan tentang bisnis utama, yaitu pemahaman visi dan misi secara khusus organisasi tempat bertugas, dan (e) Pengetahuan tentang dunia, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek lingkungan dan perkembangannya baik local, nasional maupun global.
4. Fungsi-fungsi utama
Pribadi yang efektif akan senantiasa setia dan konsisten terhadap keyakinan dasar yang menjadi panduan dalam hidupnya. Dengan kata lain, kepribadian efektif akan tercermin dari keseluruhan perilaku yang dilandasi dan dibimbing oleh nilai-nilai yang berakar pada keyakinannya. Atas dasar itu, ada enam fungsi-fungsi dasar yang dilakukan oleh pendidik berkepribadian efektif yang meliputi: (a) Valuing, yaitu kemampuan penguasaan nilai-nilai yang baik dalam lingkungan pendidikan dan mampu menterjemahkan nilai-nilai itu dalam praktek, (b) Visioning, yaitu memiliki gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang diinginkan bagi pendidikan, (c) Coaching, yaitu membantu orang lain mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai visi, (d) Empowering, yaitu memberdayakan orang lain untuk bergerak maju mencapai visi, (e) Team Building, yaitu mengembangkan kebersamaan dengan oranmg-orang yang bersedia untuk bersama-sama mencapai visi, (f) Promoting Quality, yaitu mencapai satu reputasi meningkatnya mutu kinerja lembaga pendidikan.

5. Kualitas Watak
Kualitas watak merupakan perwujudan potensi kepribadian pada tingkatan yang paling tinggi melalui penampilan diri secara otentik dan paripurna. Kepribadian efektif pendidik dalam tingkatan ini meliputi: (a) Identitas, atau jati diri yaitu keaslian diri dengan rasa keutuhan dan keterpaduan, (b) Kebebasan diri, yaitu menjadi orang yang lebih banyak terkendali secara internal daripada terkendali secara eksternal, (c) Otentisitas atau keaslian, menyatakan diri secara benar dan memelihara keterpaduan antara diri bagian dalam (inner self) dengan diri bagian luar (outer self), (d) Tanggungjawab, yaitu menjadi akuntabel dalam keputusan dan tindakan sendiri, (e) Keteguhan hati, yaitu mempertahankan jatidiri meskipun dalam menghadapi rintangan, (f) Integritas, yaitu terbimbing oleh seperangkat prinsip-prinsip moral dan diakui oleh orang lain sebagai orang yang memiliki keutuhan diri.

C. Mengenal Potensi Pribadi
Potensi pribadi merupakan bagian dari keseluruhan kepribadian dalam bentuk kecakapan-kecakapan yang terkandung baik aspek fisik, emosional, maupun intelektual. Apabila potensi pribadi ini dapat dikembangkan secara efektif, maka akan menjadi kecakapan nyata yang secara terpadu membentuk kualitas kepribadian seseorang. Pencapaian guru matematika yang ideal dapat diperoleh melalui suatu perencanaan yang sistematis dengan menata dan mengembangkan potensi-potensi pribadi. Perencanaan ini merupakan suatu rangkaian proses kegiatan yang terarah dan sistematis dalam mengenal, menata, dan mengembangkan potensi pribadi dalam rangka mempersiapkan perjalanan hidup seseorang agar mencapai suatu perwujudan diri yang bermakna.
Oleh karena itu, setiap guru seharusnya membuat perencanaan dan pengembangan potensi secara tepat. Untuk itu perlu mengenal potensi diri sejak dini dan mengembangkannya ke arah yang diinginkan.
M Surya (2003) juga menyatakan bahwa ada lima tingkatan potensi yang harus dikembangkan sehingga memberi makna dalam keseluruhan hidup secara efektif. Kelima tingkatan dalam lingkup potensi dari level 5 ke level 1 adalah Potensi Pribadi (Pemimpin, Kontributor, Partisipan, Pengamat, Pengeluh), Potensi Fisik (Stamina, Intensitas, Adaptasi, Bertahan, Sakit-sakitan), Potensi Emosional ( Berinisiatif, Ramah tamah, Merespon, Menghampiri, Tidak ada perhatian), dan Potensi Intelektual (Program, Objectif, Princip ,KonsepFakta).
Di antara kelima tingkatan, tingkatan yang menggambarkan kondisi sempurna bagi guru matematika yang ideal adalah tingkatan kelima yakni (i) Potensi Fisik Stamina, yaitu kondisi potensi fisik yang sehat dan sempurna sehingga mampu mewujudkan kualitas hidup efektif, (ii) Potensi Emosional Berinisiatif, yang berarti mampu memberikan respon emosional secara aktif dalam hubungan antar pribadisehingga penuh kehangatan dan saling pengertian dalam pergaulan, (iii) Potensi Intelektual Program, yang berarti memiliki kemampuan intelektual untuk mengenal masalah, melihat tujuan dan mengembangkan program untuk mencapai tujuan, dan (iv) Potensi Pribadi Pemimpin, yaitu kinerja pribadi sebagai pemimpin yang mamp[u menciptakan situasi yang sedemikian rupa sehingga mampu menggerakkan orang-orang di lingkungannya untuk berbuat mencapai tujuan bersama.

D. Langkah-langkah Menjadi Guru Matematika yang Ideal Berbekal Kepribadian Efektif.
Untuk menjadi guru matematika yang ideal berbekal kepribadian efektif, maka guru matematika harus mampu merencanakan dan mengembangkan kepribadian efektif mulai dengan mengkaji kecakapan, minat, kepribadian, nilai-nilai diri, unjuk kerja dan gaya hidup sampai kepada penggunaannya dalam memanfatkan unsur-unsur kepribadian dan potensi pribadi secara optimal.
1. Kecakapan-kecakapan
Ada dua macam kecakapan dalam diri yaitu kecakapan nyata atau prestasi dan kecakapan potensi. Kecakapan nyata adalah segala sesuatu yang telah dimiliki baik melalui pengalaman ataupun proses pembelajaran. Sedangkan kecakapan potensial (intelegensi dan bakat) dapat terwujud melalui proses pembelajaran dan latihan. Guru matematika yang ideal memiliki atau setidaknya berupaya untuk memiliki dua macam kecakapan di atas.
2. Minat-minat
Minat menggambarkan rasa senang atau tidak senang terhadap sesuatu. Melakukan suatu kegiatan tanpa didasari rasa senang, akan menimbulkan rasa tidak betah atau siksaan bagi yang melakukannya. Guru matematika yang ideal menjadikan niat bertanggung jawab dan beribadah sebagai modal minat dalam menjalankan tugas mendidik dan mengajar. Dengan demikian, perasaan senang, optimisme dan semangat yang tinggi menjadi bagian dari kehidupannya dalam mendidik dan mengajar matematika.
3. Kepribadian
Ciri-ciri kepribadian harus sesuai dengan tuntutan kependidikan. Oleh karena itu, guru matematika yang ideal mengusahakan dirinya untuk mengenal dan memahami seluruh ciri-ciri kepribadian kemudian dibandingkan dengan tuntutan yang telah direncanakan.
4. Nilai-nilai diri
Untuk melakukan kegiatan yang dapat memberikan kepuasan, hendaknya sesuai dengan sistem nilai yang ada dalam diri seseorang. Nilai ini hendaknya merupakan sesuatu yang diyakini oleh guru matematika secara konsisten untuk dilakukan agar dapat mengarahkan dirinya kearah yang diyakini.
5. Kesempatan
Mempelajari berbagai informasi yang berkaitan dengan kesempatan berupa pendidikan, pekerjaan, kegiatan, aktualisasi diri, waktu, ruang, dsb. Semua harus memiliki kejelasan diskripsi baik isi maupun cara memperolehnya dan tidak pernah melewatkannya dengan sia-sia. Guru matematika yang ideal berupaya menjalani setiap kesempatan yang tersedia dengan rasa syukur dan optimis dengan adanya kebajikan dibalik setiap kesempatan.
6. Unjuk kerja
Bila telah sampai pada posisi yang direncanakan, harus menunjukkan unjuk kerja yang memadai sesuai dengan tuntutan posisi diri. Bila tidak, maka akan kecil peluang ,meraih kesuksesan dan kepuasan. Oleh karena itu, guru matematika yang ideal harus mengetahui dan memahami standar tuntutan dari lingkungan kerja dan belajar memenuhi tuntutan secara tepat.
7. Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan seperangkat pola perilaku sehari-hari yang relative konsisten dilakukan untuk mencapai kepuasan diri. Potensi pribadi ditentukan oleh kemampuan memadukan gaya hidup dengan pilihan-puilihan yang tersedia. Sangat penting bagi guru matematika untuk mengenal gaya hidup masing-masing diri. Gaya hidup guru matematika mungkin akan berubah pada suatu saat karena pengaruh berbagai faktor baik internal maupun eksternal.

Daftar Pustaka:
.
Surya, M.2003. Menuju Guru yang Profesional dan Bermoral. Makalah Simposiun Guru Tingkat Nasional Tahun 2003.. Malang: tidak diterbitkan.

Thursday, January 22, 2009

KAJIAN KESETARAPAN ANTARA PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION


I. Pendahuluan
Orientasi pendidikan kita selama ini mempunyai ciri: (i) cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek; (ii)guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner; (iii) materi bersifat subject-oriented; dan (iv) manajemen bersifat sentralistis(Zamroni, 2000).
Orientasi pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian (Zamroni, 2000).
Paradigma baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Zamroni, 2000):
1) Pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching);
2) Pendidikan diorganisir dalam suatu struktur yang fleksibel;
3) Pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri; dan
4) Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Atas dasar alasan itulah pemerintah dan pakar pendidikan matematika berupaya untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa tidak hanya tertuju kepada kurikulum berbasis kompetensi seperti yang digalakkan di sekolah sekarang ini, bahkan dalam rangka mengatasi rendahnya aktivitas dan hasil belajar matematika, sekarang ini tengah diuji-cobakan penggunaan pembelajaran matematika secara kontekstual dan humanistik seperti yang telah dikembangkan di negara-negara maju. Seperti pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas.
Menurut Howey (2001: 105), di Amerika Serikat juga tengah dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang disebut contextual teaching and learning. Pendekatan ini dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas matematika melalui pembelajaran yang dimulai dengan masalahmasalah contextual. Pendekatan seperti ini diduga mampu mengantarkan siswa dalam merespons setiap masalah dengan baik, karena dalam kehidupan sehari-hari, siswa telah mengenal masalah tersebut.
Pendidikan nasional antara lain bertujuan mewujudkan learning society dimana setiap anggota masyarakat berhak mendapatkan pendidikan (education for all) dan menjadi pembelajar seumur hidup (longlife education). Empat pilar pendidikan dari UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Impelementasi dalam pembelajaran matematika terlihat dalam pembelajaran dan penilaian yang sifatnya learning to know (fakta, skills, konsep, dan prinsip), learning to do (doing mathematics), learning to be (enjoy mathematics), dan learning to live together (cooperative learning in mathematics).
II. Kajian Pendekatan Kontekstual Dan Realistic Mathematics Education
A. Pendekatan Kontekstual
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika ‘anak mengalami' apa yang dipelajarinya, bukan 'mengetahui'-nya. Pembelajaran yang berorieritasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi 'mengingat' jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkm persoalan dalam kehidupm.jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi pada kebanyakan sekolah-sekolah di Indonesia.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran dihadapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses penibelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri', bukan dari 'apa kata guru'. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam buku ringkas ini dibahas persoalan yang berkenaan dengan pendekatan kontekstual dan implikasi penerapannya.
1. Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar yang Mendasari Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut :
a. Proses Belajar
• Belajar tidak hanya sekedar menghafal. siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
• Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
• Pra ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter).
• Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
• Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
• Siswa perlu dibiasakan memmecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
• Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajangkan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.
b. Transfer Belajar
• Siswa belajar dari mengalami sendiri bukan dari pemberian orang lain.
• Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit-demi sedikit.
• Penting bagi siswa tahu "untuk apa" ia belajar, dan "bagaimana" ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
c. Siswa sebagai Pembelajar
• Manusia mempunyai kecendrungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak menpunyai kecendrungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
• Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru.
• Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
• Peran orang dewasa (guru) mebantu menghubungkan antara "yang baru" dan yang sudah diketahui.
• Tugas guru "memfasilitasi" agar informasi baru bermakna memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
d. Pentingnya Lingkungan Belajar
• Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari "guru akting didepan kelas, siswa menonton" ke "siswa bekerja dan berkarya, guru mengarahkan".
• Pengajaran harus berpusat pada "bagaimana cara" siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibanding hasilnya.
• Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar.
• Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
2. Teori yang Melandasi CTL
a. Knowledge-Based Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
b. Effort-Based Learning/Incremental Theory of Intellegence, bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan dengan komitmen untuk belajar.
c. Socialization, menekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan tujuan belajar. Oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran.
d. Situated Learning, pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial(masyarakat, rumah, dsb) dalam mencapai tujuan belajar.
3. Ciri Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
• Belajar berbasis masalah (problem based learning), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah faktual sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar perpikir kritis dan terampil dalam pemecahan masalah, sehingga mereka memperoleh pengetahuan dan konsep-konsep yang esensial dari materi pembelajaran.
• Pengajaran otentik (authentic instruction), yaitu pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk mempelajari konsteks bermakna terhadap fenomena-fenomena yang dihadapi.
• Belajar berbasis inkuiri (inquiry based-learning), yaitu belajar dengan pendekatan pengajaran menggunakan strategi pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
• Belajar berbasis proyek/tugas terstruktur (project based-learning), yaitu belajar dengan pendekatan pengajaran yang komprehensif. Lingkungan belajar siswa dirancang agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah otentik, termasuk pendalaman materi dan pelaksanaan tugas bermakna yang lain.
• Belajar berbasis kerja (work based-learning), yaitu belajar dengan pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pembelajaran, serta menerapkan kembali materi pembelajaran tersebut di dalam tempat kerja tersebut.
• Belajar jasa-layanan (service learning), yaitu belajar yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan struktur berbasis sekolah, atau menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis. Penerapan pendekatan ini akan menuntun terjadinya penerapan praktis dari pengetahuan baru dan keterampilan siswa untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui tugas terstruktur dan kegiatan lain.
• Belajar kooperatif (cooperative learning), yaitu belajar dengan pendekatan pengajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
4. Prinsip Pendekatan Kontekstual
Ada tujuh prinsip(komponen) yang sekurang-kurangnya terdapat dalam pendekatan kontekstual.
a. Konstruktivis
Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar, itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses "menkonstruksi" bukan "menerima" pengetahuan. dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Landasan berfikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, straegi "memperoleh" lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan :
(1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
(2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
(3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengelaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara , yaitu asimilasi atau akomodasi. asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.
b. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
Siklus inkuiri :
o Obsevasi (Observation)
o Bertanya (questioning)
o Mengajukan dugaan (Hyphotesis)
o Pengumpulan data (Data gathering)
o Penyimpulan (Conclussion)
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri) :
(1). Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
(2). Mengamati atau observasi
(3). Menganalsis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan
karya lainnya
(4). Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru,
atau audien yang lain
c. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari "bertanya". Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya,
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
(1) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
(2) mengecek pemahaman siswa
(3) membangkitkan respon kepada siswa
(4) mengetahui sejauh mana keinginantahuan siswa
(5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
(6) menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
(7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
(8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

Pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan; antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dsb. Kegiatan itu akan menumbuhkan dorongan untuk "bertanya".

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya "Bagaimana caranya? tolong bantu aku!" Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).

Hasil belajar diperoleh dari "sharing" antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.

Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya hiterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang "ahli' ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak susu. teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang reparasi kunci, dan sebagainya.

"Masyarakat-belajar" bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah, "Seorang guru yang mengajari siswanya" bukan contoh masyarakat-belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. dalam masyarakat-belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.

Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik "learning community" sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terujud dalam:
 Pembentukan kelompok kecil
 Pembentukan kelompok besar
 Mendatangkan "ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dsb.)
 Bekerja dengan kelas sederajat
 Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
 Bekerja dengan masyarakat
e. Pemodelan (Modelling)

Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebaginya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang "bagaimana cara belajar"

Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa menagamati guru membaca dan membolak balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajran menemukan kata kunci secar cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci, guru menjadi model.

Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa "contoh" tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai "standar" kompetensi yang harus dicapainya.

Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi "model" cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.

f. Refleksi (Reflection)

Refleksi juga bagian penting dalam pembelejaran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.

Kunci dari semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.

Pada akhir prmbrlajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa :
 pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu
 catatan atau jurnal di buku siswa
 kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
 diskusi
 hasil karya
g. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment))
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir priode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti) EBTA/EBTANAS, tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa gar mampu mempelajari (learning how to learn) bukan ditekan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.

Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. di luar kelas itulah yang disebut data autentik.

Kemudian belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil.
Adapun karakteristik autentic assessment antara lain :
 Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
 Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
 Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
 Berkesinambungan
 Terintrgrasi
 Dapat digunakan sebagai feed back
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa :
(1) Proyek/kegiatan dan laporannya
(2) PR
(3) Kuis
(4) Karya Tulis
(5) Presentasi atau penampilan siswa
(6) Demonstrasi
(7) Laporan
(8) Jurnal
(9) Hasil tes tulis
(10) Karya tulis


6. Karakteristik Pembelajaran Berpendekatan CTL
• Kerja sama
• Saling menunjang
• Menyenangkan dan tidak membosankan
• Belajar dengan penuh gairah
• Pembelajaran terintegrasi
• Menggunakan berbagai sumber
• Siswa aktif
• Sharing dengan teman
• Siswa kritis guru kreatif
• Dinding kelas dan lorong-lorong penuh hasil karya siswa, peta-peta, gambar-gambar, artikel, humor dan lain-lain.
• Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dll.
7. Langkah-langkah Penerapan CTL
Penerapan CTL dalam kelas secara garis besar, langkahnya adalah berikut ini.
(1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkostruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
(2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
(3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
(4) Ciptakan 'masyarakat belajar' (belajar dalam kelompok-kelompok).
(5) Hadirkan 'model' sebagai contoh pembelajaran.
(6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
(7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara !.

B. Pendekatan Realistic Mathematic Education
1. Kecenderungan Pemikiran Tentang Belajar yang Mendasari Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran matematika oleh sekolah di Indonesia sejauh ini masih didominasi oleh pembelajaran konvensional dengan paradigma mengajarnya.
Siswa diposisikan sebagai obyek, siswa dianggap tidak tahu atau belum tahu apa-apa, sementara guru memosisikan diri sebagai yang mempunyai pengetahuan. Guru ceramah dan menggurui, otoritas tertinggi adalah guru. Penekanan yang berlebihan pada isi dan materi diajarkan secara terpisah-pisah. Materi pembelajaran matematika diberikan dalam bentuk jadi. Dan, semua itu terbukti tidak berhasil membuat siswa memahami dengan baik apa yang mereka pelajari.
Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika lemah karena tidak mendalam. Akibatnya, prestasi belajar matematika siswa rendah.
Hampir setiap tahun matematika dianggap sebagai batu sandungan bagi kelulusan sebagian besar siswa. Selain itu, pengetahuan yang diterima siswa secara pasif menjadikan matematika tidak bermakna bagi siswa.
Menurut Marpaung (2003), paradigma mengajar seperti di atas tidak dapat lagi dipertahankan dalam pembelajaran matematika di sekolah. Sudah saatnya paradigma mengajar diganti dengan paradigma belajar. Paradigma belajar ini sejalan dengan teori konstruktivisme. Dalam paradigma belajar, siswa diposisikan sebagai subyek. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, tapi suatu proses yang harus digeluti, dipikirkan, dan dikonstruksi siswa, tidak dapat ditransfer kepada mereka yang hanya menerima secara pasif.
Dengan demikian, siswa sendirilah yang harus aktif. Paradigma belajar juga seturut dengan teori Realistic Mathematics Education (RME) yang dikembangkan Freudenthal bahwa pengetahuan matematika dikreasi, bukan ditemukan sebagai sesuatu yang sudah jadi.
Oleh karena itu, siswa harus secara aktif mengkreasi (mengkreasi kembali) pengetahuan yang ingin dimilikinya. Tugas guru bukan lagi aktif mentransfer pengetahuan, tetapi menciptakan kondisi belajar dan merencanakan jalannya pembelajaran dengan materi yang sesuai dan representatif serta realistik bagi siswa sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang optimal.
2. Landasan Teori RME
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengembangan matakognisi).
Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan operasionalisasi dari suatu pendekatan pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda dengan nama Realistic Mathematics Education (RME) yang artinya pendidikan matematika realistik.
Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual (contextual problems) sebagai titik tolak dalam belajar matematika. Perlu dicermati bahwa suatu hal yang bersifat kontekstual dalam lingkungan siswa di suatu daerah, belum tentu bersifat konteks bagi siswa di daerah lain. Contoh berbicara tentang kereta api, merupakan hal yang konteks bagi siswa yang ada di pulau Jawa, namun belum tentu bersifat konteks bagi siswa di luar Jawa. Oleh karena itu pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik harus disesuaikan dengan keadaan daerah tempat siswa berada.
Msalah dalam pembelajaran matematika merupakan suatu “keharusan” dalam menghadapi dunia yang tidak menentu. Siswa perlu dipersiapkan bagaimana mendapatkan dan menyelesaikan masalah. Masalah yang disajikan ke siswa adalah masalah kontekstual yakni masalah yang memang semestinya dapat diselesaikan siswa sesuai dengan pengalaman siswa dalam kehidupannya.
2. Ciri PMR
PMR mempunyai ciri antara lain, bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru (Gravemeijer, 1994), dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil” (de Lange, 1995).
3. Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik
Ada tiga prinsip utama dalam PMR, yaitu: a) guided reinvention and progressive mathematizing, b) didactical phenomenology, dan c) self-developed models. Ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
a. Guided reinvention/progressive mathematizing (penemuan kembali terbimbing/ pematematikaan progresif)
Prinsip ini menghendaki bahwa dalam PMR, dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru di awal pembelajaran, kemudian dalam menyelesaikan masalah siswa diarahkan dan diberi bimbingan terbatas, sehingga siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan PMR yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.
Menurut penulis, prinsip penemuan ini mengacu pada pandangan kontruktivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari guru kepada siswa, melainkan siswa sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.
b. Didactical phenomenology (fenomena pembelajaran)
Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena pembelajaran, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu masalah kontekstual untuk digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan PMR, didasarkan atas dua alasan, yaitu: (1) untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi suatu topik yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2) untuk dipertimbangkan pantas tidaknya masalah kontekstual itu digunakan sebagai poin-poin untuk suatu proses pematematikaan progresif.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa prinsip ke-2 PMR ini menekankan pada pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kecocokan masalah kontekstual yang disajikan dengan: (1) topik-topik matematika yang diajarkan dan (2) konsep, prinsip, rumus dan prosedur matematika yang akan ditemukan kembali oleh siswa dalam pembelajaran.
c. Self - developed models (model-model dibangun sendiri).
Menurut prinsip ini, model-model yang dibangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa diberi kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah kontekstual yang dipecahkan. Sebagai konsekuensi dari kebebasan itu, sangat dimungkinkan muncul berbagai model yang dibangun siswa.
Berbagai model tersebut pada mulanya mungkin masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Ini merupakan langkah lanjutan dari re-invention dan sekaligus menunjukkan bahwa sifat bottom up mulai terjadi. Model-model tersebut diharapkan akan berubah dan mengarah kepada bentuk matematika formal. Dalam PMR diharapkan terjadi urutan pengembangan model belajar yang bottom up.
Selain di atas terdapat prinsip-prinsip RME lainnya seperti aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal dalam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-interkoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).
4. Karakteristik Pembelajaran Metematika Realistik
Sebagai operasionalisasi ketiga prinsip utama PMR di atas, PMR memiliki lima karakteristik, yaitu: a) the use of context (menggunakan masalah kontekstual), b) the use models (menggunakan berbagai model), c) student contributions (kontribusi siswa), d) interactivity (interaktivitas) dan e) intertwining (terintegrasi). Penjelasan secara singkat dari kelima karakteristik tersebut, secara singkat adalah sebagai berikut.
a. Menggunakan masalah kontekstual.
Pembelajaran matematika diawali dengan masalah kontekstual, sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya secara langsung. Masalah kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai sumber pematematikaan, tetapi juga sebagai sumber untuk mengaplikasikan kembali matematika. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik awal pembelajaran, hendaknya masalah sederhana yang dikenali oleh siswa. Masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu: (1) untuk membantu siswa menggunakan konsep matematika, (2) untuk membentuk model dasar matematika dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika, (3) untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber aplikasi matematika dan (4) untuk melatih kemampuan siswa, khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas).
b. Menggunakan berbagai model.
Istilah model berkaitan dengan model matematika yang dibangun sendiri oleh siswa dalam mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi siswa untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau dari situasi informal ke formal.
c.Kontribusi siswa.
Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.
d. Interaktif.
Interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa dengan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh siswa.
e. Keterkaitan.
Struktur dan konsep matematika saling berkaitan, biasanya pembahasan suatu topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yang lebih bermakna. Dalam tesis ini karakteristik ini tidak muncul.
Dari prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik di atas maka dapat dikatakan bahwa permulaan pembelajaran harus dialami secara nyata oleh siswa, pengenalan konsep dan abstraksi melalui hal-hal yang konkret sesuai realitas atau lingkungan yang dihadapi siswa dalam kesehariannya yang sudah dipahami atau mudah dibayangkan siswa. Sehingga mereka dengan segera tertarik secara pribadi terhadap aktivitas matematika yang bermakna. Pembelajaran dirancang berawal dari pemecahan masalah yang ada di sekitar siswa dan berdasarkan pada pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
5. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
a. Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
Siswa diberi masalah/soal kontekstual, guru meminta siswa memahami masalah tersebut secara individual. Guru memberi kesempatan kepada siswa menanyakan masalah/soal yang belum dipahami, dan guru hanya memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian situasi dan kondisi masalah/soal yang belum dipahami siswa. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik keempat yaitu interaksi.
b. Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
c. Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua menggunakan model.
d. Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi bantuan jika dibutuhkan.
Dipilih kelompok berpasangan, dengan pertimbangan efisiensi waktu. Karena di sekolah tempat pelaksanaan ujicoba, menggunakan bangku panjang. Sehingga kelompok dengan jumlah anggota yang lebih banyak, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam pembentukannya. Sedangkan kelompok berpasangan tidak membutuhkan waktu, karena siswa telah duduk dalam tatanan kelompok berpasangan.
Setelah diskusi berpasangan dilakukan, guru menunjuk wakil-wakil kelompok untuk menuliskan masing-masing ide penyelesaian dan alasan dari jawabannya, kemudian guru sebagai fasilitator dan modarator mengarahkan siswa berdiskusi, membimbing siswa mengambil kesimpulan sampai pada rumusan konsep/prinsip berdasarkan matematika formal (idealisasi, abstraksi). Karakteristik PMR yang muncul yaitu interaksi.
e. Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah adanya interaksi antar siswa dengan guru.
III. Kajian Kesetarapan Dua Pendekatan
Untuk menentukan bahwa kedua pendekatan memiliki kesetarapan atau tidak, maka diperlukan kajian kesetarapan dengan membandingkan aspek-aspek pada kedua pendekatan tersebut. Aspek-aspek yang dimaksud adalah(i) dasar pemikiran, (ii) landasan teori, (iii)ciri-ciri pendekatan, (iv) prinsip-prinsip, (v) karakteristik dan (vi) langkah-langkah. Adapun kajian kesetarapan pendekatan kontekstual dan pendekatan RME/PMR dapat ditunjukkan dalam table 1 berikut ini:
Tabel 1 Kajian Kesetarapan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan RME/PMR
Aspek Kajian
Kesetarapan Pendekatan Kontekstual Realistik Matematic Education/PMR Nilai Kesetarapan
Dasar Pemikiran Proses pembelajaran menghendaki mengkonstruksi pengetahuan sendiri, mengalami sendiri, belajar dengan cepat hal-hal baru,memerlukan lingungan, membutuhkan komunitas belajar Paradigma mengacu pada siswa belajar bukan guru mengajar, proses belajar digeluti, dipikirkan dan dikonstruksi siswa, memanfaatkan realitas dan lingkungan, mempelajari masalah kontekstual Pada kedua pendekatan, pembelajaran terjadi ketika siswa mengkonstruksi pengetahuan, mengalami sendiri, membutuhkan masalah kontekstual(hal-hal baru dalam realitas), dan memanfaatkan lingkungan
Landasan Teori - Knowledge-Based Constructivism, Effort-Based Learning, Socialization, Situated Learning
Dikembangkan oleh Howey, Amerika Serikat
- Belajar dengan pola guided reinvention, pemanfaatkan realitas dan lingkungan, mempelajari masalah kontekstual
Dikembangkan oleh Hans Freudenthal, Belanda Keduanya beraliran konstruktivis, mangadopsi masalah sosial(realitas,socialization, situated, dsb) dan berkaitan erat dengan lingkungan
Ciri-ciri Pendekatan -Belajar berbasis masalah, inquiri, proyek, kerja, jasa layanan, dan kooperatif.
- Pengajaran outhentic Terdapat proses menemukan kembali(to reinvention, dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan dunia riil Sama-sama mengedepankan proses menemukan dalam kaitannya dengan situasi(outhencic) dan dunia riil (masalah kontekstual)
Prinsip Konstruktivis, inquiry,Questioning, Learning community,modelling,reflecting Guided reinvention/progresif mathematizing,didactical phenomenology,self-developed models Konstruktivis, inquiry dan questioning adalah bagian dari proses reinvention dan didactical phenomenology serta developed models. Sedang learning community dan reflecting adalah sesuatu yang mungkin dibutuhkan ketika menguji hasil penemuan.
Karakteristik Kerja sama, saling menunjang, menyenangkan,belajar penuh gairah, pembelajaran terintregasi, menggunakan berbagai sumber, sharing, dsb. Menggunakan masalah kontekstual dan berbagai model, kontribusi siswa, interaktif, dan keterkaitan dengan dunia nyata siswa Kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, dan belajar penuh gairah mendukung optimalisasi konstribusi siswa. Keduanya berkaitan dengan dunia riil(realitas) siswa
Langkah-langkah Terstruktur secara Fleksibel dan demokratik mengacu pada prinsip-prinsip pendekatan Terstruktur secara Fleksibel mengacu pada prinsip-prinsip pendekatan Sama-sama fleksibel dalam strukturisasi sintaks pembelajaran, yang penting mengacu pada prinsip-prinsip pendekatan.
Dengan memperhatikan hasil kajian kesetarapan di atas, maka dapatlah di sampaikan beberapa hal antara lain:
1. Pendekatan kontekstual dan pendekatan RME/PMR sama-sama memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
2. Pendekatan kontekstual dan pendekatan RME/PMR sama-sama memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
3. Pendekatan kontekstual dan pendekatan RME/PMR sama-sama memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu bersungguh sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut di bawah bimbingan guru yang bertindak sebagai fasilitator.
4. Pendekatan kontekstual dan pendekatan RME/PMR sama-sama memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.
IV. Penutup
Dengan melihat nilai-nilai kesetarapan pada tiap-tiap aspek kajian, maka dapat diperoleh hasil kajian kesetarapan pendekatan kontekstual dengan pendekaran Realistic Mathematic Education Kajian. Mudah-mudahan hasil kesetarapan ini sangat bermanfaat bagi para pembaca. Utamanya dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di Indonesia yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pula prestasi akademik baik dalam mata pelajaran matematika khususnya maupun mata pelajaran lainnya pada umumnya.

V. Daftar Pustaka
Areds Richards I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: McGraw-Hill
De Lange, J. (1995). Assessment: No change without problem. In: T. Romberg (ed.) Reform in school mathematics and authentic assessment. Albany NY: State Univeristy of New York Press.

Gravemeijer, K.P.E. (1994). Developing realistic mathematics education. Utrecht: CD- Press, the Netherlands.

Gravemeijer, K.P.E. (1997). Instructional design for reform in mathematics education. In: Beishuizen, Gravemeijer and Van Lieshout (Eds.) The Role of Contexts and Models in the Development of Mathematics Strategies and Procedures. Utrecht: CD- Press, the Netherlands.

Nur, M., Ibrahim, M. 2000. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: University Press-UNESA.
Kurikulum 1994 Akhirnya Disempurnakan (1999). Kompas. [On-line]. Tersedia: http://kompas.com/kompas%2Dcetak/berita%2Dterbaru/1634.html

Zamroni (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Zamzani, 2008. Hanout, Model-model Pembelajaran yang Relevan. Yogjakarta: UNY

Lencana Facebook